Kupalingkan pandanganku ke arah penjual nasi goreng yanglewat di depan kostanku. Setelah penjual itu tak terlihat lagi aku terusmenundukkan kepalaku dan memandang lantai yang bermotif awan itu. Tapi yang adasemakin membuatku kacau saja. Perlahan aku pun berusaha untuk memandang cerahnya bulan di malam itu
Mungkin itu salah satu cara untuk menetralkan perasaankuyang sedang kacau. Namun tak lama kemudian ponsel ku berdering, .Spontan akumenjadi bingung dan diam.
Seperti bunga putri malu yang di sentuh langsung layuseketika.
Mau tidak mau aku pun harus menunggu kata-kata yang ada dipesan BBM ini “AKU GAK BISA KAYA BEGINI TERUS” Itulah serangkaian kata yang akubaca.
Tapi dengan bodoh aku malah pura-pura mengabaikanya. “Hah,maksudnya apa?” balas ku Sambil mengerutkan dahi dengan gayaseperti orang yang sedang berpikir kritis. Padahal dalam hati aku sudah mulaikacau dan aku tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tanpa menunggu lebih lama dia pun membalas, “kita udah gak biaskaya dulu lagi, kita udah gak seindah dulu lagi,.”
Aku berharap dia salah berbicara dan akan meralatperkatannya. Tapi setelah beberapa saat kutunggu, tak ada kata yang terucaplagi. Sungguh aku tak bisa beripikir jernih. Semua menjadi terasa lebih kacau,rasa tak percaya, marah, ingin menangis, dan sakit hati. Semua beradu menjadisatu seperti sup buah yang selalu aku idamkan saat panas terik.
Aku pun tak tau harus membalas apa untuk menanggapi pernyataanitu. Aku juga tak tahu harus kata mana dulu yang harus aku keluarkan. Yang adaaku hanya termenung dan menunduk dengan memasang wajah yang murung. Keadaanseperti ini sebenarnya malah akan membuatku mengeluarkan air mata. Akhirnya akuberusaha untuk menegakkan posisi kepalaku. Dan lagi-lagi aku malah memalingkanpandangan ke arah sudut meja yang berbentuk persegi . Menyebalkan sekali.Padahal aku seharusnya sudah berbicara sejak tadi, bukan bertindak sepertiorang bisu begini. Aku tetap harus bicara.
“Jadi kau bermaksud untuk mengakhiri semuanya dan pergi darihidupku?”
. “Kalau memang ini maumu tidak apa-apa. Pergilah ke manasaja kau mau, carilah orang lain yang lebih baik dari aku”
Aku sangat sadar, bukan ini yang ingin aku bicarakan. Tetapitentang alasan mengapa dia bilang begitu. Keruh sudah pikiranku. Aku terlaluemosi dan tidak bisa mengontrolnya. Sepertinya dia paham akan sikapku yangterlihat kacau ini.
“Bukan begitu maksudnya. Aku rasa kita perlu waktu untukmengintrospeksi diri kita masing-masing. Banyak hal yang selama ini sudahmelampaui batas dan tidak sejalan seperti yang seharusnya. Sehingga akhir-akhirini kita sering bertengkar hanya karena masalah kecil. Ini butuh waktu untukmemperbaiki semuanya”
Bagitulah maksud kata-katanya tadi. Ternyata aku terlaluemosi sehingga tidak bisa berpikir positif. Akhirnya aku pun bisa mengertimaksudnya. Kita harus berpisah untuk memperbaiki diri lagi. Dan seperti yangdia bilang, untuk sementara meskipun tak tahu sampai kapan dan seberapa lama.
Yang dia katakan tadimemang benar adanya. Akhir-akhir ini kita sering bertengkar hanya karenamasalah kecil. Dan aku pikir ini juga karena sikap kita yang masih labilmeskipun usia kita menginjak 19 tahun. Perlahan aku pun mengangguk tandamengerti.
“Kalau memang jodoh, pasti kita akan disatukan lagi. Hanyasaja untuk sementara ini kita harus berpisah. …”
Tapi ku rasa ini bukan sementara tapi selamanya, kitaseperti rumah yang sempit tapi tetap di paksakan untuk Dihuni,
Jauh dari kesan rumah yang sempurna, yang bisa melindungikita dari panas, hujan , dan memberikan sebuah kenyamanan..
Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberikanapa yang kita inginkan, mau di katakana apa lagi kita tidak akan pernah satukarena tuhanlah sang sutradara alam semesta ini.
Di setiap hujan ada pelangi, dan pelangi itu gak cuman satu warna dan itu menandakan kita gak bakalansusah walau satu warna di hidup kita pudar.
Semangat banyak warna warni di hidupku yang harus ku susun
Masih ada ibu, sahabat sahabat ku sebagai matahari yangmenjadi factor utamaku untuk memunculkan pelangi di hidup ini,
Jalankan perasaan logika dan kenyataan dengan seimbang kelakku tak akan terlalu dalam saat terjatuh lagi..
Selamat berpisah kembali, kurang lebih 3 th kau sudahmenjadi teman hidupku.
The Day When You Say Bye.
"Rico hidayat,
Mungkin itu salah satu cara untuk menetralkan perasaankuyang sedang kacau. Namun tak lama kemudian ponsel ku berdering, .Spontan akumenjadi bingung dan diam.
Seperti bunga putri malu yang di sentuh langsung layuseketika.
Mau tidak mau aku pun harus menunggu kata-kata yang ada dipesan BBM ini “AKU GAK BISA KAYA BEGINI TERUS” Itulah serangkaian kata yang akubaca.
Tapi dengan bodoh aku malah pura-pura mengabaikanya. “Hah,maksudnya apa?” balas ku Sambil mengerutkan dahi dengan gayaseperti orang yang sedang berpikir kritis. Padahal dalam hati aku sudah mulaikacau dan aku tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tanpa menunggu lebih lama dia pun membalas, “kita udah gak biaskaya dulu lagi, kita udah gak seindah dulu lagi,.”
Aku berharap dia salah berbicara dan akan meralatperkatannya. Tapi setelah beberapa saat kutunggu, tak ada kata yang terucaplagi. Sungguh aku tak bisa beripikir jernih. Semua menjadi terasa lebih kacau,rasa tak percaya, marah, ingin menangis, dan sakit hati. Semua beradu menjadisatu seperti sup buah yang selalu aku idamkan saat panas terik.
Aku pun tak tau harus membalas apa untuk menanggapi pernyataanitu. Aku juga tak tahu harus kata mana dulu yang harus aku keluarkan. Yang adaaku hanya termenung dan menunduk dengan memasang wajah yang murung. Keadaanseperti ini sebenarnya malah akan membuatku mengeluarkan air mata. Akhirnya akuberusaha untuk menegakkan posisi kepalaku. Dan lagi-lagi aku malah memalingkanpandangan ke arah sudut meja yang berbentuk persegi . Menyebalkan sekali.Padahal aku seharusnya sudah berbicara sejak tadi, bukan bertindak sepertiorang bisu begini. Aku tetap harus bicara.
“Jadi kau bermaksud untuk mengakhiri semuanya dan pergi darihidupku?”
. “Kalau memang ini maumu tidak apa-apa. Pergilah ke manasaja kau mau, carilah orang lain yang lebih baik dari aku”
Aku sangat sadar, bukan ini yang ingin aku bicarakan. Tetapitentang alasan mengapa dia bilang begitu. Keruh sudah pikiranku. Aku terlaluemosi dan tidak bisa mengontrolnya. Sepertinya dia paham akan sikapku yangterlihat kacau ini.
“Bukan begitu maksudnya. Aku rasa kita perlu waktu untukmengintrospeksi diri kita masing-masing. Banyak hal yang selama ini sudahmelampaui batas dan tidak sejalan seperti yang seharusnya. Sehingga akhir-akhirini kita sering bertengkar hanya karena masalah kecil. Ini butuh waktu untukmemperbaiki semuanya”
Bagitulah maksud kata-katanya tadi. Ternyata aku terlaluemosi sehingga tidak bisa berpikir positif. Akhirnya aku pun bisa mengertimaksudnya. Kita harus berpisah untuk memperbaiki diri lagi. Dan seperti yangdia bilang, untuk sementara meskipun tak tahu sampai kapan dan seberapa lama.
Yang dia katakan tadimemang benar adanya. Akhir-akhir ini kita sering bertengkar hanya karenamasalah kecil. Dan aku pikir ini juga karena sikap kita yang masih labilmeskipun usia kita menginjak 19 tahun. Perlahan aku pun mengangguk tandamengerti.
“Kalau memang jodoh, pasti kita akan disatukan lagi. Hanyasaja untuk sementara ini kita harus berpisah. …”
Tapi ku rasa ini bukan sementara tapi selamanya, kitaseperti rumah yang sempit tapi tetap di paksakan untuk Dihuni,
Jauh dari kesan rumah yang sempurna, yang bisa melindungikita dari panas, hujan , dan memberikan sebuah kenyamanan..
Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberikanapa yang kita inginkan, mau di katakana apa lagi kita tidak akan pernah satukarena tuhanlah sang sutradara alam semesta ini.
Di setiap hujan ada pelangi, dan pelangi itu gak cuman satu warna dan itu menandakan kita gak bakalansusah walau satu warna di hidup kita pudar.
Semangat banyak warna warni di hidupku yang harus ku susun
Masih ada ibu, sahabat sahabat ku sebagai matahari yangmenjadi factor utamaku untuk memunculkan pelangi di hidup ini,
Jalankan perasaan logika dan kenyataan dengan seimbang kelakku tak akan terlalu dalam saat terjatuh lagi..
Selamat berpisah kembali, kurang lebih 3 th kau sudahmenjadi teman hidupku.
The Day When You Say Bye.
"Rico hidayat,
0 comments:
Post a Comment