Selamat.
Saya sudah berubah seluruhnya. Mungkin itu awalan yang paling baik untuk tulisan ini.
Entah dimulai darimana…
Saya selalu ragu dengan permulaan. Memulai sesuatu itu menurut saya adalah hal yang cukup saya takuti. Tapi sekarang ini entah saya berada ditengah cerita—atau akhir. Dan saya harap saya tidak tau.
Umur saya sekarang 19 tahun . Secara legal, saya sudah boleh membeli perintilan-perintilan perusak badan seperti rokok dan minuman beralkohol. Saya sudah berdiri di hak atas diri saya sendiri seluruhnya. Saya berusaha tidak menyesali apa yang sudah atau belum saya perbuat belakangan. Lingkungan yang cukup rumit juga membuat saya belajar banyak soal hal-hal yang belum saya jamah sebelumnya. Tapi nilai salah atau buruk semakin justru bertambah bias. Saya lemah, saya kalah oleh pikiran-pikiran pesimis yang sudah biasa saya bangun dari dulu. Saya sadar saya tidak akan pernah bisa bergantung oleh siapapun. Saya sadar luka-luka yang dulu pernah tergurat dalam, saya simpan dalam-dalam, akan tiba-tiba muncul dan mengaitkan segala hal. Saya benci jadi dewasa, saya benci harus bekerja. Saya mengacaukan semua hal yang bisa saya kacaukan—tapi dihancurkan ironi kecil disebrangnya. Tanpa disadari, saya bahagia dengan semuanya. Saya bahagia dikala sendirian, melihat jalanan aspal yang terpantul cahaya matahari menimbulkan fatamorgana lucu. Saya bahagia melihat pohon kamboja yang menunduk rantingnya. Ironi kecil itu kadang membuat saya ingin menangis. Disaat semua kebutuhan dan ego merengek-rengek minta dituruti, justru saya menjatuhkan diri. Berpikir bahwa saya terlalu berusaha keras—bahwa orang yang terlalu berusaha akan jatuh pada suatu titik. Takut memulai tapi juga takut tidak berakhir. Karena dengan begitu harapan begitu semampai tumbuhnya. Padahal satu luka berbisik ke luka lain bahwa ini sudah pernah dilewati dan saya seharusnya belajar. Tapi, dunia tidak pernah seindah itu. Bahagia tidak pernah sesederhana itu.
Semua tidak selucu itu ketika sudah dimulai. Diam tidak lagi emas. Bicara jadi masalah. Saya merasa saya belum pernah berjuang sampai berdarah-darah. Perasaan yang entah semakin lama semakin melunjak—dan saya tau disaat itu terjadi.
Mari bercermin. Saya orang sinting yang mengacaukan 2 tahun kuliah saya, tidak pernah berusaha, haus atensi, manja dan egois. Saya sebisa mungkin memahami siapa yang saya ajak bicara. Menjadi orang lain sudah jadi makanan sehari-hari untuk saya. Saya telan semua sindiran dengan defensi yang saya kubur dalam-dalam. Saya penafsu yang belum tau untuk apa manusia diberi nafsu jika mengalahkan semua akal. Saya lelaki dengan fisik biasa saja yang masih sering dilecehkan kanan-kiri. Saya, dengan segala kekuatan, berusaha memahami apa yang orang rasakan. Tapi ternyata itu saja belum cukup dan tidak akan pernah cukup.
Selalu ada hal baru. Selalu. Yang lebih menarik, yang lebih pantas dipertanyakan. Yang usang dan tua lalu ditinggal begitu saja. Selalu terlihat tidak adil. Tapi berujung adil dengan iming-iming doa yang terbaik untuk entah siapa yang dirugikan. Kemudian rumus hidup jadi amburadul. Walaupun tidak ada yang pernah tau, tapi setiap orang berhak mencari tau. Saya pun meraba-raba apa yang dicari dari makhluk dengan nafsu dan ego yang tidak pernah puas? Atensi dipermainkan. Tarik ulur bak memancing. Lalu begitu saja yang saya pelajari dari manusia. Mereka cepat hilang.
Tidak akan pernah ada konklusi. Tapi jangan pesimis. Toh„ pada akhirnya disemua ketidak beruntungan itu, selalu ada yang beruntung. Dan tidak beruntungnya, kita semua akan mati.
MRH
Saya sudah berubah seluruhnya. Mungkin itu awalan yang paling baik untuk tulisan ini.
Entah dimulai darimana…
Saya selalu ragu dengan permulaan. Memulai sesuatu itu menurut saya adalah hal yang cukup saya takuti. Tapi sekarang ini entah saya berada ditengah cerita—atau akhir. Dan saya harap saya tidak tau.
Umur saya sekarang 19 tahun . Secara legal, saya sudah boleh membeli perintilan-perintilan perusak badan seperti rokok dan minuman beralkohol. Saya sudah berdiri di hak atas diri saya sendiri seluruhnya. Saya berusaha tidak menyesali apa yang sudah atau belum saya perbuat belakangan. Lingkungan yang cukup rumit juga membuat saya belajar banyak soal hal-hal yang belum saya jamah sebelumnya. Tapi nilai salah atau buruk semakin justru bertambah bias. Saya lemah, saya kalah oleh pikiran-pikiran pesimis yang sudah biasa saya bangun dari dulu. Saya sadar saya tidak akan pernah bisa bergantung oleh siapapun. Saya sadar luka-luka yang dulu pernah tergurat dalam, saya simpan dalam-dalam, akan tiba-tiba muncul dan mengaitkan segala hal. Saya benci jadi dewasa, saya benci harus bekerja. Saya mengacaukan semua hal yang bisa saya kacaukan—tapi dihancurkan ironi kecil disebrangnya. Tanpa disadari, saya bahagia dengan semuanya. Saya bahagia dikala sendirian, melihat jalanan aspal yang terpantul cahaya matahari menimbulkan fatamorgana lucu. Saya bahagia melihat pohon kamboja yang menunduk rantingnya. Ironi kecil itu kadang membuat saya ingin menangis. Disaat semua kebutuhan dan ego merengek-rengek minta dituruti, justru saya menjatuhkan diri. Berpikir bahwa saya terlalu berusaha keras—bahwa orang yang terlalu berusaha akan jatuh pada suatu titik. Takut memulai tapi juga takut tidak berakhir. Karena dengan begitu harapan begitu semampai tumbuhnya. Padahal satu luka berbisik ke luka lain bahwa ini sudah pernah dilewati dan saya seharusnya belajar. Tapi, dunia tidak pernah seindah itu. Bahagia tidak pernah sesederhana itu.
Semua tidak selucu itu ketika sudah dimulai. Diam tidak lagi emas. Bicara jadi masalah. Saya merasa saya belum pernah berjuang sampai berdarah-darah. Perasaan yang entah semakin lama semakin melunjak—dan saya tau disaat itu terjadi.
Mari bercermin. Saya orang sinting yang mengacaukan 2 tahun kuliah saya, tidak pernah berusaha, haus atensi, manja dan egois. Saya sebisa mungkin memahami siapa yang saya ajak bicara. Menjadi orang lain sudah jadi makanan sehari-hari untuk saya. Saya telan semua sindiran dengan defensi yang saya kubur dalam-dalam. Saya penafsu yang belum tau untuk apa manusia diberi nafsu jika mengalahkan semua akal. Saya lelaki dengan fisik biasa saja yang masih sering dilecehkan kanan-kiri. Saya, dengan segala kekuatan, berusaha memahami apa yang orang rasakan. Tapi ternyata itu saja belum cukup dan tidak akan pernah cukup.
Selalu ada hal baru. Selalu. Yang lebih menarik, yang lebih pantas dipertanyakan. Yang usang dan tua lalu ditinggal begitu saja. Selalu terlihat tidak adil. Tapi berujung adil dengan iming-iming doa yang terbaik untuk entah siapa yang dirugikan. Kemudian rumus hidup jadi amburadul. Walaupun tidak ada yang pernah tau, tapi setiap orang berhak mencari tau. Saya pun meraba-raba apa yang dicari dari makhluk dengan nafsu dan ego yang tidak pernah puas? Atensi dipermainkan. Tarik ulur bak memancing. Lalu begitu saja yang saya pelajari dari manusia. Mereka cepat hilang.
Tidak akan pernah ada konklusi. Tapi jangan pesimis. Toh„ pada akhirnya disemua ketidak beruntungan itu, selalu ada yang beruntung. Dan tidak beruntungnya, kita semua akan mati.
MRH
0 comments:
Post a Comment