Saturday, August 12, 2017

PERKARA KOPI

Saya agak kaget melihat perilaku manusia masa kini yang ingin sekali di cap sebagai pecandu kopi. Permasalahan nya mereka ingin di cap sebagai pecandu hanya bagian dari aktualisasi di sosial media semata saja. Yang mana pada realitanya mereka tidak benar benar menjadi seorang pecandu kopi.

Kalau masalah soal pecandu kopi, saya jadi ingat bapak saya yang sangat kecanduan kopi. Bapak saya bisa di bilang sebagai pecinta kopi hitam garis keras. Dalam sehari bapak bisa menghabiskan 7 sampai 10 cangkir kopi. Pagi,siang,sore,malam,tengah malam setiap hari tak pernah lepas dari kopi. belum lagi dengan sebungkus gudang garam filter sehari yang kadang buat saya mikir lah ini orang loh koq kuat banget ya lambung nya. Apa jangan jangan lambung nya sudah di ganti kantong kresek ?.

“pak mbok kalo mau ngopi ya ngopi aja, gak usah di barengi sama rokok, inget awak mu pak”

“ sudah gpp mas, tar bapak juga bakalan berhenti ngopi kalau sudah tinggal ampas nya doang, berhenti rokok juga kalau tinggal puntung nya doang”

“Halah lambemu pak”

Ya begitu lah sifat para pecandu ketika kita mencegah untuk sedikit mengurangi atau melakukan hal yang ia candu, acuh.

Pecandu menurut saya tidak harus melakukan aktualisasi apa yang menjadi candu nya ke halayak ramai. Bukan kah dengan melakukan sesuatu yang menjadi candu sudah membuat para pecandu bahagia ?. Saya jadi ingat tentang si supri teman kampung saya yang sekarang hits di sosial media. supri sekarang menjadi kopi holic, semua postingan di sosial media nya selalu berhubungan dengan kopi. Suatu hari kita bertemu untuk sejenak melepas rasa kangen karena saya dan supri sudah lama tidak bertemu. kita bertemu di salah satu warkop di jalan panjang kebon jeruk. Mengingat supri adalah pecinta kopi, pertemuan di warkop rasanya menjadi hal lazim. Beda ceritanya kalau kita ketemuan di warung jamu pinggir jalan.

Setelah beberapa menit kita ngobrol, saya memesan segelas kopi hitam sasetan dan sebungkus rokok gudang garam filter. Buat saya kopi kapal api sasetan udah pas banget kalau di sruput bareng sebatang gudang garam filter. Mereka pasangan yang cocok bagi para warkopers. Namun yang membuat saya heran ketika si supri pesan nutrisari anget. Seseorang yang ngakunya pecandu ngopi nongkrong di warkop pesan nutrisari ?. karena penasaran akhirnya saya menanyakan perihal tersebut.

“Pri koe ki jare pecinta kopi, tapi nongkrong neng warkop loh malah pesen nutrisari ?”. tanya saya ke supri.

“sorry bro, menurutku kopi yang sasetan bagi pecinta kopi tuh bukan kopi”.  jawab supri

“ lah koe ini logika nya aneh, kalo kopi sasetan ini bukan kopi terus apa ?? Marimas ?”. timpal saya ke supri

“enggak , maksud saya tuh kopi bagi para pecinta kopi tuh minimal yang pesan nya di kedai kopi. Ada semacam hal menarik ketika nyruput nya. Karena ada hal yang bisa di aktualisasi kan di sosial media”

“ koe iki pecinta kopi apa vlogger ?, setiap ngopi harus mengabadikan dan mengaktualisasikan nya di halayak ramai ?”

Saat itu saya langsung menganggap kalau supri ini pecinta kopi abal abal. Buat dia kopi hanya menjadi objek dalam diri nya untuk mengaktualisasi di sosial media. seberapa enak rasa kopi buat dia tidak akan ada artinya jika tidak di aktualisasikan di sosial media. logika seperti ini sama saja seperti lelaki yang hanya suka perempuan cantik dan menganggap perempuan yang tidak cantik itu bukan perempuan. Kadang saya merasa asu dengan orang orang jaman sekarang.

Saya sendiri bukan pecinta kopi, ngopi juga sekedar saja. Tidak sepeti bapak saya yang sudah menjadikan kopi bagian dari hidup. Namun dengan melihat cara pandang supri tentang kopi membuat saya berpikir kalau tidak semua netizen yang suka gembar gembor soal kopi atau suka posting kopi di sosial media itu pecinta dan pecandu kopi. Bisa saja mereka melakukan itu hanya tuntutan trend, mengingat menjamur nya kedai kopi dan ada nya film filosofi kopi membuka peluang mereka menjadi manusia hipster dengan memposting semua hal tentang kopi.

Kalau sudah begitu pertanyaan saya , kemana kalian saat semua orang menghakimi kalau penikmat kopi hitam itu seperti dukun ? atau jangan jangan kalianlah oknum nya ??

(MRH)

0 comments:

Post a Comment