“hei akhirnya ketemu juga” seuntai kalimat yang masih aku tunggu untuk di ucapkan di saat
bertemu dengan mu.
Aida namanya , gadis asal malang jawa timur yang ku kenal
dua tahun lalu di social media. Dia gadis yang telah mengalihkan pandanganku
dari gelamornya wanita wanita metropolitan.
Sosok gadis yang belum mengenal merek LA SENAZA sebagai merek bra terkenal
yang sedang kekinian di kalangan wanita modern Jakarta.
Saat menulis ini aku sedang duduk di gerai kopi ternama
asal amerika di daerah Karawaci - Tangerang, sebuah gerai kopi yang sudah familiar
namanya. Satu hal yang aku tau, tentunya kamu belum pernah ke kedai kopi seperti
ini. Bukan karena tidak ada cabangnya di sana, melainkan kamu memang tidak
pernah menghabiskan waktu hanya untuk sekedar duduk manis di gerai kopi
menghabiskan secangkir Caramel Macchiato.
Ada tujuh meja berwarna merah marun di gerai kopi ini, di
pasangkan dengan empat bangku berwarna hitam di tiap sudutnya. Terlihat pula
empat orang pasangan yang sedang menikmati minumanya dan bercengkrama hangat
untuk merencanakan esok hari. Aku rasa
kamu sudah tau kalau malam ini malam minggu, malam dimana orang berkumpul
bersama kekasih , kerabat , teman teman atau dengan kesendirian. Aku ? tentunya
aku sedang bersama fatamorganaku tentang kehadiranmu di mana kita akan
menghabiskan malam minggu berdua.
Mencintai seseorang tanpa ada sebuah tatap muka mungkin
bagi sebagian orang sesuatu yang tabu. Tapi ini lah aku, aku mencintaimu dalam
senyum foto di setiap Profil Picture Bbmmu, aku mencintaimu dalam setiap suara
telfon , dan aku mencintaimu dalam setiap obrolan di Bbm.
Di setiap langkahku selalu saja ada keinginan untuk
selalu bertemu denganmu. Seperti halnya tukang parkir di Indomaret yang selalu
berharap mendapatkan uang dari orang yang memarkirkan kendaraan di area toko,
walupun sudah jelas ada bacaan parkir gratis.
Ya itulah hidup selalu ada pengharapan, walaupun harus
menjadi sang penjudi harap.
Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku seseorang yang ingin
merangkai senyummu di dalam setiap pengharapan ini, aku seseorang yang tetap
ingin menunggu mu hingga bertemu nanti. Layaknya sang fajar yang tetap setia
menunggu datang nya mentari dari ufuk barat.
Bahkan aku sering mematut di depan cermin berbicara dan
tersenyum bercerita hingga cermin itu mengeluh bosan, lalu cermin itu bertanya,
“mengapa dia lagi dia lagi yang kau ceritakan ? dia tak akan mendengar keluh
kesanmu dari sini”.
Semua orang tahu menunggu hal yang membosankan, tapi aku
jalani seperti meminum secangkir kopi. Pahit kopi selalu memberI arti bahwa rasa
pahit yang nyata dapat di nikmati.
Aida , semoga saja aku dapat memenangkan perjudian harap
ini, aku harap pula tak ada seseorang yang berusaha menjadi terbaik demi
menempati satu tempat kosong di hati kamu selain diriku.
Jikalaupun sudah kau izinkan seseorang untuk menempati
ruang kosong itu, mungkin itu bagian dari resiko seorang penjudi, sebuah
kekalahan.
Sampai jumpa bulan delapan nanti, seperti janjiku kepadamu
untuk datang menemuimu.
Semoga sketsa kita yang aku buat bisa kita lihat bersama
dalam dinginya udara Malang. Kalau pun sketsa itu hanya menjadi semu, aku akan
tetap memilih tetap akrab dalam semu itu.
Aku yang menunggu mu.
MRH
0 comments:
Post a Comment