Wednesday, April 15, 2015

AIDA



“hei akhirnya ketemu juga” seuntai kalimat yang  masih aku tunggu untuk di ucapkan di saat bertemu dengan mu.
Aida namanya , gadis asal malang jawa timur yang ku kenal dua tahun lalu di social media. Dia gadis yang telah mengalihkan pandanganku dari gelamornya wanita wanita metropolitan.
Sosok gadis yang belum mengenal merek LA SENAZA sebagai merek bra terkenal yang sedang kekinian di kalangan wanita modern Jakarta.

Saat menulis ini aku sedang duduk di gerai kopi ternama asal amerika di daerah Karawaci - Tangerang, sebuah gerai kopi yang sudah familiar namanya. Satu hal yang aku tau, tentunya kamu belum pernah ke kedai kopi seperti ini. Bukan karena tidak ada cabangnya di sana, melainkan kamu memang tidak pernah menghabiskan waktu hanya untuk sekedar duduk manis di gerai kopi menghabiskan secangkir Caramel Macchiato.  

Ada tujuh meja berwarna merah marun di gerai kopi ini, di pasangkan dengan empat bangku berwarna hitam di tiap sudutnya. Terlihat pula empat orang pasangan yang sedang menikmati minumanya dan bercengkrama hangat untuk merencanakan  esok hari. Aku rasa kamu sudah tau kalau malam ini malam minggu, malam dimana orang berkumpul bersama kekasih , kerabat , teman teman atau dengan kesendirian. Aku ? tentunya aku sedang bersama fatamorganaku tentang kehadiranmu di mana kita akan menghabiskan malam minggu berdua.

Mencintai seseorang tanpa ada sebuah tatap muka mungkin bagi sebagian orang sesuatu yang tabu. Tapi ini lah aku, aku mencintaimu dalam senyum foto di setiap Profil Picture Bbmmu, aku mencintaimu dalam setiap suara telfon , dan aku mencintaimu dalam setiap obrolan di Bbm.

Di setiap langkahku selalu saja ada keinginan untuk selalu bertemu denganmu. Seperti halnya tukang parkir di Indomaret yang selalu berharap mendapatkan uang dari orang yang memarkirkan kendaraan di area toko, walupun sudah jelas ada bacaan parkir gratis.
Ya itulah hidup selalu ada pengharapan, walaupun harus menjadi sang penjudi harap.

Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku seseorang yang ingin merangkai senyummu di dalam setiap pengharapan ini, aku seseorang yang tetap ingin menunggu mu hingga bertemu nanti. Layaknya sang fajar yang tetap setia menunggu datang nya mentari dari ufuk barat.

Bahkan aku sering mematut di depan cermin berbicara dan tersenyum bercerita hingga cermin itu mengeluh bosan, lalu cermin itu bertanya, “mengapa dia lagi dia lagi yang kau ceritakan ? dia tak akan mendengar keluh kesanmu dari sini”.

Semua orang tahu menunggu hal yang membosankan, tapi aku jalani seperti meminum secangkir kopi. Pahit kopi selalu memberI arti bahwa rasa pahit yang nyata dapat di nikmati.

Aida , semoga saja aku dapat memenangkan perjudian harap ini, aku harap pula tak ada seseorang yang berusaha menjadi terbaik demi menempati satu tempat kosong di hati kamu selain diriku.
Jikalaupun sudah kau izinkan seseorang untuk menempati ruang kosong itu, mungkin itu bagian dari resiko seorang penjudi, sebuah kekalahan.

Sampai jumpa bulan delapan nanti, seperti janjiku kepadamu untuk datang menemuimu.
Semoga sketsa kita yang aku buat bisa kita lihat bersama dalam dinginya udara Malang. Kalau pun sketsa itu hanya menjadi semu, aku akan tetap memilih tetap akrab dalam semu itu.

Aku yang menunggu mu.
MRH


 


0 comments:

Post a Comment