Entah kenapa malam ini rindu sedang
bangsat-bangsatnya. Kau tau? Tiba-tiba saja mereka datang tanpa meminta izin
terlebih dahulu. Aku hanya diam, lalu menyalakan sebatang rokok dengan
harapan asap yang khidmat kuembuskan dapat membunuh mereka saat sedang
mencegat pita suaraku yang hendak mengucap namamu saat tertahan di
kerongkongan.
Kau ingat saat ciuman-ciuman singkat
yang kucuri dari bibirmu sembunyi-sembunyi kala ibuku sedang memasak di dapur?
Kau ingat pelukan erat yang sesekali
kau minta kendurkan dan kau menjelaskan dengan senyum manis bahwa kau
takkan pergi ke mana-mana?
Kau ingat genggaman tangan yang tak
ingin kau lepaskan malam itu, lalu kau berkata, “Sejauh apapun kita terpisah,
kita tetap berada di bawah langit yang sama.”
Kau ingat ketika kau memejam,
memberi tanda bahwa keningmu yang lugu ingin didaratkan sebuah kecupan lembut,
lalu kau malah cemberut melihatku yang tertidur pulas di dadamu?
Kau ingat ketika kamu baru saja
keluar dari kamar mandi dengan wajah semringah, kemudian dengan gerakan mata
yang teduh, kau memintaku menggelar sejadah untuk segera mengucap kata semoga
dan amin dalam satu irama.
Apakah rindumu mengingat hal
yang sama?
0 comments:
Post a Comment