Beberapa bulan belakangan ini gue lagi tergila gila
dengan film bollywood. Semua berawal dari film 3 idiot yang di bintangi Amir
khan. Film tentang perjalanan 3 sahabat di salah satu universitas teknologi di
india dalam meraih sebuah kesuksesanya.
Sejak itulah gue jadi rajin banget donlot film film
bollywood, bahkan sekarang semua tentang budaya india mulai gue sukai.
Film Bollywood sering disebut-sebut sebagai cerminan
masyarakat India. Tapi kini makin sering didiskusikan, sebetulnya film-film itu
merupakan citra yang diimpikan warga India untuk melupakan realitas keseharian.
Cinta abadi, kegembiraan yang meluap, kesedihan amat
mendalam dan tantangan berat. Dalam film-film Bollywood cinta pasangan pelakon
utama, seringkali diuji lewat kesiapannya untuk berkorban.
Ciri khas jalan cerita film Bollywood adalah memancing
emosi penonton yang ibaratnya menaiki rollercoaster, naik dan turun amat cepat.
Walaupun penonton tahu, bahwa di akhir cerita, pasti akan adegan "happy
ending" yang ditampilkan, mereka tetap terpukau.
Sebagian artis bollywood memiliki paras yang tampan dan
cantik, Sebut saja Katrina kaif , deepika padukone , kareena kapoor , anuskha Sharma
dll, siapa yang tak di buat terpesona oleh kecantikan nya ? biasanya di setiap
film mereka mengenakan busana warna warni dengan paduan kain sari khas india
untuk menari atau menyanyi di saat bahagia maupun sedih.
Dari salah satu artikel yang gue baca dari sebuah media
online, film bollywood memang mempengaruhi warga dan masyarakat. sekaligus
menunjukkan realita, bahwa hal itu samasekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan
nyata para penontonnya.
Jadi adegan ketika shahrukh khan nyium kajol tanpa nyepik
atau adegan hitrik roshan buka baju terus langsung di peluk Kareena kapoor itu
sebetulnya gak ada dalam kehidupan.
Masyarakat India tetap terpisah lewat hierarki yang
ketat. Memang sistem kasta secara resmi sudah dihapus, seiring diberlakukkannya
konstitusi dari tahun 1950. Tapi di kawasan pedesaan sistem kasta yang
diskriminatif itu masih tetap diterapkan.
Masyarakat India pasca tahun 1990-an memang diakui makin
toleran dan terbuka, seiring kemajuan ekonomi dan pendidikan. Tapi perbedaan
kelas tetap eksis. Dalam kisah film, pembatasan di antara dua orang yang
bercinta, dapat dengan mudah diruntuhkan. Tetapi dalam kenyataannya tidak
begitu.
Seperti dalam film HUMPTY SHARMA yang di bintangi Alia
bhatt dan Varun dhawan , dimana di saat Si alia bhat hendak menikah begitu
gampanya di kacaukan oleh varun.
Lebih dari dua pertiga dari 1,2 milyar penduduk India,
sesuai data sensus tahun 2011, bermukim di pedesaan. Sekitar 90 persen
perkawinan diatur dan ditentukan oleh keluarga, jadi tidak bebas berdasar
cinta.
Perkawinan antara pemeluk agama yang berbeda, di mana di
India 80 persen warga memeluk agama Hindu dan 16 persen Islam, juga sangat jarang
terjadi. Namun film-film Bollywood seperti "Bombay" (1995),
"Gadar" ( 2001), "Veer Zaara" (2004) atau "Jodhaa
Akhbar" (Akbar, 2008) menggambarkan terobosan atas tabu ini.
Tidak mengherankan jika bintang film kenamaan Shah Rukh
Khan dan Saif Ali Khan yang beragama Islam, dijadikan idola, karena dalam
kehidupan nyata, mereka menikah dengan wanita beragama Hindu.
Sutradara kenanamaan Kunal Kohli, yang antara lain
membuat film percintaan yang suskes di pasaran "Hum Tum" ( 2004)
atau"Fanaa" (2006) mengatakan, film tidak bisa sejauh itu mengubah
tata kemasyarakatan, Film tidak benar-benar mempengaruhi kehidupan nyata,
walaupun basisnya diambil dari kehidupan nyata.
Penulis terkemuka India, Javed Akhtar menambahkan :
"Film Bollywood memang merefleksikan apa yang terjadi dalam masyarakat.
Tapi itu refleksi keinginan, harapan, nilai dan tradisi. Film India bukan
refleksi realita, melainkan merefleksikan impian masyarakat."
Memang ada film yang menampilkan isu nyata, walau tidak
banyak. Misalnya "Maqbool" (2003 karya Vishal Bhardwaj ), yang
memotret tema mafia di Mumbai. Atau karya Anurag Kashyap's, Black Friday
(2004), terkait serangan bom di Mumbai dan kerusuhan sektarian antara kaum
Hindu dan Muslim.
Artis kenamaan Vidya Balan menegaskan: "Untuk
membuat film Bollywood yang sukses resepnya hanya tiga macam, yakni hiburan,
hiburan dan hiburan."
Memang benar Sinema hanya memiliki satu arti, yakni
hiburan. Kita tidak bisa mengharapkan sutradara menunjukkan realita keras
sehari-hari. Ini bukan tugas film-film komersial,
Yang jelas gak semua hal indah yang di lakukan di film
bollywood itu adalah realita di masyarakat, dan kita sebagai penikmat film
tentu harus membuat batasan dalam menikmatinya. Agar sisi negatife tidak kita
terima. (MRH)




0 comments:
Post a Comment