Friday, March 27, 2015

BALADA SEORANG POLISI


Beberapa hari ini public sedang ramai di gemparkan dengan berita polisi yang membela pengguna sepeda motor saat tersrempet Bus Trans Jakarta di jalur busway. Berita ini sontak menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat, sebenarnya siapakah yang harus di bela oleh polisi tersebut ? pengguna sepeda motor yang berkendara di jalur busway atau si supir bus Trans Jakarta yang nyrempet motor di jalurnya sendiri ?.
Ini tentu menjadi sebuah balada bagi kepolisian Indonesia, apalagi kurang lebih 2 bulan ini institusi tersebut belum mempunyai  seorang pimpinan.

Gue sendiri punya kisah mengilukan dengan pihak kepolisian di tahun 2012 dulu. Suatu hari gue dan cewek gue (sekarang mantan) berboncengan dengan memakai sepeda motor dari arah pantai alam indah menuju Rita mall, Kota tegal jawa tengah. Di salah satu jalan protocol pantura entah mengapa ada bebrapa polisi menghentikan kami tanpa ada nya ucapan selamat siang yang lumrah di lakukan para polisi saat hendak merazia para pengguna kendaraan bermotor. alesanya sih Cuma gara gara kita berhenti di luar jalur saat lampu merah ?
Kontan hal ini sangat mengejutkan bagi kami , apalagi kami sedang terbuai – buai indahnya asmara karena baru saja berdua menikmati indahnya ombak pantai.

Setelah itu kami berdua di bawa ke pos polisi terdekat. Disana kami di jelaskan perihal kesalahan berkendara kami.
“kalian tahu salah kalian apa ?” Tanya polisi dengan nada sok tegas.
“salah saya cuma gak bawa STNK sama SIM doang pak” salut gue dengan polos.
“nah itu tau, sudah gitu kalian kalo berhenti pas lampu merah jangan di luar garis putih dong”
“setau saya samping batas jalan itu kan trotoar yang tinggi nya 20 centi meter dari dasar jalan, jadi gak mungkin kita keluar jalur pak”
“sudah diam kalian ,” jawab pak polisi dengan tampang sok sangar
Gue sadar gue emang salah, gue berpergian gak bawa STNK dan SIM. Tapi perihal berhenti di luar jalur itu yang buat gue merasa aneh. gimana pak polisi tau gue berhenti di luar jalur? sedangkan mereka sedang ngopi ngopi cantik di warkop dekat pos mereka. Lagian di samping jalur kami sudah berbatasan dengan trotoar.

Setelah panjang lebar menjelaskan pelanggaran yang secara kasat mata sebenarnya tidak perlu dijelaskan akhirnya Polisi tersebut mengajukan uang “titip sidang”.
Dan dengan polosnya gue mengiyakan kesalahan tersebut lalu menyerahkan uang yang katanya titip sidang sebesar 300 ribu dengan Cuma – Cuma.

Jujur sampai saat ini gue belum begitu ikhlas merelakan uang 300 ribu untuk oknum polisi tersebut. Kami tau sejujurnya ini tindakan pembodohan untuk kami, mereka melihat ada sepasang pasangan polos yang baru saja ke kota dan jadilah kami sasaran empuk mereka. Kalau emang factor kesalahan, kenapa pengguna motor di belakang kami tidak ikut di tilang ? lagi pula ini juga kesalahan yang gak logis, Jelas jelas di samping kami trotoar, bagaimana bisa kami berhenti di luar jalur ?.

Selama ini karena ulah oknum Polisi yang bersikap bak pengemis  tersebut,  meski dengan bahasa dan sikap yang seakan  tidak menunjukkan hal tersebut padahal UUD (ujung-ujungnya duit), telah menjatuhkan rasa hormat dan segan masyarakat pada Korps Kepolisian, yang tersisa hanya rasa takut karena seragam, senjata serta kekuasaan yang dimiliki oleh Kepolisian.    

Apakah itu yang dikehendaki dan diimpikan oleh para Polisi saat mereka memutuskan memilih jalan sebagai Polisi yaitu menjadi ditakuti masyarakat. Tentu tidak, semua Polisi pasti menginginkan mereka dihormati dan dihargai profesi mereka sebagai Pelindung dan Pengayom minimal oleh lingkungan tempat tinggal mereka.

Tetapi bila oknum Polisi yang bersikap bak pengemis (apapun kasusnya) semakin dibiarkan dan menjadi kejamakan maka seperti halnya sikap masyarakat terhadap para pengemis pinggir jalan, mereka akan bersikap sama pada insan Kepolisian tersebut.

Saya yakin dan percaya, masih banyak insan Kepolisian yang berpegang teguh pada fungsi Pelindung dan Pengayom Masyarakat, masih ada masyarakat yang mencintai Kepolisian RI  dan menginginkan Polisi memperoleh kehormatan dan kebanggaan profesi mereka karena dicintai oleh masyarakat dan hanya ditakuti oleh penjahat.

Kita merindukan polisi seperti Inspektur Vijay di film-film bollywood yang tanpa pandang bulu membasmi kejahatan, serta taat konstitusi saat di sogok oleh tuan takur. Dan tentu kita semua tidak berharap masyarakat hanya mengenal bahwa Polisi Indonesia sejati hanya Almarhum Hoegeng Imam Santoso (Kapolri tahun 1969-1971), patung polisi, dan polisi tidur saja. (MRH)

0 comments:

Post a Comment