Wednesday, April 22, 2020

COVID-19 DAN LARANGAN MUDIK


Tentu kita semua berusaha menebarkan jala penuh harapan dalam menghadapi pandemi corona ini. Tapi harapan yang kita inginkan terjadi hari ini ternyata tak terjadi. Beberapa hari lalu Presiden jokowi sudah mengumumkan larangan mudik idul fitri. Melihat banyaknya warga Indonesia yang tidak mengikuti imbauan pemerintah, langkah tegas diambil. Meski langkah ini terhitung telat, tapi setidaknya ada aturan tegas.

Larangan mudik ini, dilihat dari segi pencegahan, adalah langkah tepat. Tapi kalau dilihat dari segi budaya dan sosial, langkah ini bisa dianggap bencana. Setidaknya bagi ibu saya.

Makin hari, makin banyak pula orang yang kehilangan pekerjaan. Banyak bisnis yang terpuruk. Ketakutan dan kepanikan makin terlihat di sudut-sudut kehidupan. Tentu, ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia lain, semua bertarung melawan corona, dan mungkin baru sebagian kecil yang mencicil lega. Itu pun harus kembali waswas. Di Korea Selatan, negara yang dianggap cukup tangguh menghadapi corona, mesti mendapatkan fakta baru, yakni orang-orang yang sudah dinyatakan sembuh dari serangan virus itu bisa kembali diserang. Sistem imun pasca-kena corona, dipertanyakan ulang.

Tentu larangan mudik ini dari sisi penjegahan membuat kita sedikit optimis. Kita mungkin sudah bosan dengan air mata dan kesedihan, juga rontoknya harapan. Mungkin kita mulai malas memutakhirkan data berapa jumlah korban yang jatuh setiap hari entah di negeri ini atau di luar sana. Tapi mau kita baca atau tidak, fakta-fakta itu terus bicara dengan cara yang khas: kaku tak terbantahkan.

Saat larangan mudik resmi dikeluarkan, saya langsung mengabari ibu. Saya bilang kalau Lebaran nanti kemungkinan tidak mudik. Tidak butuh waktu lama ibu saya langsung menelepon sambil menangis. “Yah mas, masa Lebaran ra weruh kamu. Masak ya tega,” kata ibu saya.

Remuk pertahanan saya.

Ada sedikit penyesalan setelah lapor kepada ibu. Niat saya simpel, saya kasih tahu sekarang agar ibu bisa siap. Lagian, cuti bersama Lebaran dipindah ke bulan lain. Tapi ibu saya tetap saja susah menerima. Saya jarang pulang selama merantau dan sudah 7 tahun saya merantau. Lebaran jadi momen yang benar-benar penting bagi ibu saya. Tahan dulu emosinya. Ibu saya tahu kalau corona ini bukan masalah sepele. Tapi susah juga bagi orang tua untuk tidak melihat anaknya di hari Lebaran.

Betapa susah menahan rindu kepada orang tua. Namun, kesabaran menahan rindu akan jadi berkah di masa depan. Ketika egois dan keras kepala melanggar larangan mudik, kita justru jadi orang jahat. Bukan tidak mungkin kita malah menularkan virus corona di sebuah tempat terkasih yang kita sebut: rumah.

Meskipun memang, kalau ibu sudah menangis, pertahanan siapa yang tidak jebol. Melihat dan mendengar ibu menangis itu jauh lebih menyanyat hati ketimbang diselingkuhin lalu ditinggal nikah.

Sebelum telepon saya tutup, saya cuma bisa menenangkan ibu bahwa jika Tuhan berkehendak, saya bisa mudik. Semoga kamu semua yang nggak bisa mudik diberi ketabahan, ya. Doa terbaik dari saya untuk orang tua kalian. Semoga selalu diberi kesehatan dan kesabaran.

Belum lagi dengan Anisa, saya suda hampir satu bulan tidak bertemu. pertemuan yang setiap hari kita lakukan kini hanya tinggal membekas lantaran Corona. Yang harus menjadi kesedihan rencana pertunangan kami juga harus diundur yang sedianya akan kita lakukan setelah lebaran idul fitri.

Sekarang yang harus kita lakukan adalah kerjakan sesuatu dengan yang terbaik, bersiaplah yang terburuk. Begitu aturan utama orang dalam mengatur strategi di kehidupan ini. walaupun Semua yang terbaik sudah kita berikan. Energi, pikiran, uang, dan semua modal sosial yang kita miliki sudah kita taruh di atas meja perjudian. Masalahnya adalah yang terburuk itu sudah tidak bisa kita ukur dan bayangkan lagi.

Kita tahu batas modal yang kita miliki. Tapi kita tak pernah tahu seberapa dalam kekalahan akan membuat lubang di hidup ini. Ini jenis perjudian yang bukan hanya akan menyita seluruh modal yang kita punya. Sebab misteri kekalahannya masih begitu misterius dan sunyi.

Sialnya, kita bahkan tak tahu bagaimana cara mengibarkan bendera putih. Kita tidak bisa menyerah agar permainan dihentikan. Corona tak mau berhenti, dan persabungan ini harus terus berlanjut lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Tuesday, April 7, 2020

COVID-19 VS UANG SEMESTER


Dihentikannya kegiatan perkuliahan karena virus corona menimbulkan banyak masalah. Selain kuliah online yang dianggap tidak efektif, masalah lain yang muncul adalah tentang bayaran uang semeseter. Pasalnya sebagian mahasiswa kelas karyawan yang memang membayar uang semester dari hasil kerjanya mengalami penurunan penghasilan karena pemangkasan gaji serta banyak yang terkena PHK dari Perusahaan tempat mereka bekerja. Dari hal tersebut banyak mahasiswa meminta untuk uang semester digratiskan atau setidaknya diberi diskon.

Tapi apakah mungkin?

Sebenarnya, bisa. Sesuai SE PLT Dirjen Dikti dengan nomor surat 302/E.E2/KR/2020, pimpinan Perguruan Tinggi diberi otoritas penuh untuk mengambil keputusan terkait kebijakan yang paling pantas dan sesuai untuk tiap universitas. Keputusan ada di tangan para rektor Universitas di mana kita menjalani kuliah.

Tapi seharusnya memberikan potongan atau menggratiskan biaya semester adalah kebijakan yang harus diambil. Dampak virus corona yang masif membuat semua orang kesulitan dalam hal ekonomi. Banyak usaha yang mengalami penurunan pemasukan, dan beberapa perusahaan memotong gaji para karyawan. Praktis ini membuat banyak mahasiswa harus benar-benar mengatur uang yang mereka punya untuk bertahan hidup.

Tapi masak ya nggak punya tabungan untuk bayar semesteran? Ya ada, tapi bukan berarti uang itu semata untuk bayar semesteran saja. Belum tentu juga dalam 2-3 bulan ke depan wabah ini membaik dan kegiatan ekonomi berlangsung normal. Situasi yang dihadapi ini datang mendadak, tidak ada negara yang siap menghadapi ini, apalagi para mahasiswa karyawan yang mengandalkan uang bayaran semester secara mandiri.

Dampak yang dirasakan tidak mengenal kalangan. Jika tidak dipotong atau digratiskan, mahasiswa merasakan dua kerugian. Pertama semester sekarang yang berlangsung tidak optimal. Kedua, semester depan pun tidak menjamin akan berjalan normal. Jika tetap harus membayar sesuai angka normal, beban yang harus ditanggung benar-benar berat.

Belakangan kampus - kampus seakan membuat kebijakan terhadap dampak Virus corona ini. Contohnya, tunjangan kuota untuk para pegawai dan mahasiswa untuk kegiatan kuliah online. Jika satu kampus memulai tindakan tersebut, kampus lain kemungkinan akan mengikuti.

Bijaknya memang Universitas tidak mengambil keuntungan atau merencanakan pembangunan dalam waktu dekat. Melihat keadaan yang ada, tidak elok rasanya tetap memaksakan mahasiswa membayar dengan penuh. Di titik ini, logika kapitalisme harus dikesampingkan dan mengedepankan kemanusiaan.

Memotong atau menggratiskan uang semesteran seharusnya bukanlah beban bagi Universitas. Universitas pun terkena dampak dari corona, dan harusnya terlintas juga di pikiran mereka bagaimana dampaknya ke mahasiswa. Pembangunan atau hal lain yang tidak mendesak harusnya tidak menjadi alasan untuk memaksa mahasiswa membayar penuh.

Saat ini adalah saat paling tepat untuk para petinggi universitas untuk mendengar suara mahasiswa. Dan mereka juga harusnya tau, ini bukan perkara uang semester, tapi juga perkara kemanusiaan.


Friday, March 27, 2020

SURAT UNTUK SITI


Sabtu malam sehabis hujan tapi gerah Fahri menyusuri koridor kedai kopi langgananya dengan tergesa gesa. Setelah menyapa dan memberi kode kepada barista untuk membuatkan Caramel Machiato kesukaanya fahri meneruskan langkah menuju tangga yang membawanya ke lantai dua.

Tidak ada yang spesial dengan suasana lantai dua. Sebagian meja sudah terisi, pengunjungnya beragam. Di sudut ruangan lantai dua ada sepasang wanita dan laki-laki, gayanya biasa saja, tangan sang lelaki sedang memegang tangan wanitanya dengan muka panik seraya sedang meyakinkan dirinya atas tuduhan perselingkuhan. Di depanya ada pasangan lelaki tua dan gadis remaja cantik yang terlihat seperti anak dan orang tua. Aneh memang, namun nyatanya ini sering terjadi dan menjadi keunikan di kota ini.

Dari pengeras suara kedai terdengar suara Tulus, yang hampir selalu diputar dikedai ini. Apalagi kalau bukan lagu teman hidup.

Setelah duduk dan mengambil ransel kemudian menyalakan laptop, fahri membuka Email dan mulai menulis sesuatu yang membuat hatinya kalut selama dua bulan ini, sesuatu untuk perempuan yang sangat ia cintai.

Subj : MAKA (MAaf dan KAngen)
Sit,
Sebelumnya saya mau minta maaf dulu. Kenapa alih alih ngajak ketemuan, saya malah nulis email kayak gini.

Jawabanya sama – sama kita tahu sit.
Saya capek berantem, dan kamu pasti lebih capek lagi.
Kalau kita ketemu dan ngomongin ini sekarang yang ada malah berantem lagi, ribut lagi, diem dieman lagi dan gitu terus sampai kita gak tahu kapan selesainya.

Sit,
Sudah berapa lama kita Cuma menduga – duga, ngebiarin hati dan pikiran kita bermain – main, kemudian akhirnya kita jadi begini – begini saja?. Saya disiksa prasangka sendiri, kamu dibakar cemburu nggak jelas.
Gitu terus gak kelar kelar.

Sit,
Saya sayang kamu banget.
Kamu cantik, kamu pinter walaupun ketek kamu bau bawang kamu adalah jawaban dari semua doa saya. Kamu cita – cita terbesar saya, mimpi saya dan rancangan masa depan saya. Dan saya sangat beruntung kamu mau sama saya yang kata orang saya sedikit gila karena gosok gigi hanya sebulan sekali.
 
Tapi sit,
Kamu ingat, berapa kali saya dan kamu terus bertengkar Cuma gara- gara dunia kita berbeda. Kamu dengan dunia Korea kamu yang selalu meyakini bahwa Kim jong un pantas menjadi member baru BTS, atau saya yang selalu beranggapan bahwa Lucinta luna adalah titisan dewi kecantikan yang gak pernah percaya bahwa dia adalah lelaki.
Tapi apa nggap capek kita gini terus? Awalnya saya mengira, semua bisa berubah. Saya pikir kamu dan saya akan berubah dan perlahan menyesuaikan satu sama lain. Saya belajar paham dunia kamu, dan kamu belajar menerima dunia saya.
 
Tapi ternyata susah ya sit,
Cinta memang nggak semudah kalimat-kalimat puitisnya anak twitter. Tapi jujur saya menikmati semua momen indah kita. Kamu ingat nggak waktu kita berdua lagi makan Pizza terus kamu ngambek gara-gara gak bisa makan pizza kalau nggak pake nasi?.  Dengan tanggap Saya langsung nyari nasi di warteg, lalu saat saya datang ternyata pizza itu sudah habis kamu makan sama kardusnya. Sakit sih saat perjuangan gak dianggap, tapi bagi saya itu indah sit.

Sekarang bagian paling cemenya.
Dulu saya berfikir ada beberapa hal yang gak bisa dipaksakan, mungkin kita salah satunya. Tapi sekarang saya sadar ada beberapa hal juga yang sangat layak diperjuangkan, kita salah satunya.

Sit,
Saya minta maaf, kita pacaran lagi yuk. Saya nggak akan banyak berjanji kali ini, basi aja kalau email ginian masih ditutup pake janji.
Kita pacaran lagi, kita mulai dari awal lagi. Gimana ?

Aku yang menyayangimu

Fahri.
 
Fahri tersenyum, lalu membaca email itu sekali lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan, lalu bersiap menekan tombol send, sampai kemudian sebuah tepukan lembut mendarat di pundaknya.
“udah nulisnya?” kata si penepuk.

Fahri menengok ke asal suara. Siti, pemilik suara dan nama di atas subjek email. Sosok cantik berkerudung terlihat berdiri dibelakangnya.

“Kenapa nggak bilang kalau mau kesini?” tanya Siti sambil tersenyum. “yang kamu tulis itu buat aku kan?”

Buru – buru fahri menutup laptopnya, menarik kursi didepanya lalu mempersilahkan Siti duduk.
“Begini, Sit...”

Wednesday, March 18, 2020

KRITIK UNTUK ORGANISASI INDUK


Tulisan ini saya tujukan untuk para Pemimpin Esa Unggul Eksekutif Club (E2C) Univeristas Esa Unggul yang telah ditunggu realisasi dari visi dan misinya.

Hari ini menjadi pukulan telak bagi saya dan anggota Ukk Pers E-Times karena dianggap menjatuhkan kredibiltas Organisasi akibat mengkritik Organisasi Induk dalam bentuk produk jurnalistik berupa Opini. Pertanyaanya adalah ketika E2C mengesahkan kami sebagai UKK Pers apakah E2C tidak mempertimbangkan sebuah resiko bahwa akan ada organisasi yang dinaunginya mengkritik lewat media.

Tapi saya tidak akan menjelasakan permasalahan tersebut, biarkan nanti ini menjadi bahan diskusi kami dan para pemangku kepentingan untuk membuat sebuah forum mengenai perihal tulisan yang E-Times buat.

Ada banyak sekali permasalahan – permasalahan yang belum disentuh oleh E2C dalam periode berjalan ini. Saya masih ingat, saat awal kepimimpinan Zidane saya diberikan kesempatan untuk mewancarainya, saat itu ia menyebutkan akan bersifat responsive terhadap isu luar dan dalam kampus. Namun, dari pembacaan saya sejauh ini, belum ada gerakan taktis dari  ketua umum dan jajarannya untuk bergerak secara efektif untuk berkontribusi memajukan bangsa pada umumnya, dan mahasiswa UEU pada khususnya.

Sebagai mahasiswa. kita seharusnya memang responsif untuk melihat isu-isu nasional yang berkembang saat ini. Lembaga kemahasiswaan harus bisa merangkul kawan-kawan mahasiswa agar saling bekerja secara kolektif untuk mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat.

Lalu bagaimana mahasiswa bisa hidup biasa-biasa saja atau malah diam disaat pendemik Corona yang mengancam keberlangsungan hidup banyak orang?. Menurut saya, bukan seperti itu menanggapi sebuah isu sebagai seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa, seharusnya menganggap bahwa semua masalah adalah setara dan perlu diselesaikan.

Hampir nyaris tidak pernah ada isu dalam maupun luar kampus yang menjadi konsen atau kajian khusus E2C untuk ikut terlibat menyelesaikanya. Kami sangat berharap E2C juga ikut menentukan skala prioritas dalam memecahkannya sebuah isu yang terjadi didalam maupun diluar kampus. Setelah mengkaji dan menentukan skala prioritas, lalu bergerak untuk secara kolektif dan menyelesaikannya. Sebab, salah satu alasan negara akan maju tergantung seberapa besar peran mahasiswa dalam memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan umat dan bangsa.

Zidane sebagai Ketua tentunya paham betul dengan permasalahan mahasiswa UEU kelas Eksekutif, tentunya kita berharap ada sedikit harapan untuk E2C agar tidak selalu diam ketika ada isu didalam dan diluar kampus yang sedang terjadi. E2C bukanlah Event Organizer yang hanya menjadi penyedia dan penyelanggara event dan seminar kampus.

Zidane harus mampu mengkontrol para anggotanya pula agar selalu selaras, tidak mempertontonkan ketidak sepahaman di depan anggota Himma dan Ukk seperti yang terjadi saat Raker kemarin. Juga mampu mengendalikan tutur kata dari anggotanya agar tidak menjadi boomerang bagi E2C sendiri.

Skala prioritas dalam mengadvokasi sebuah isu harus digunakan secara kritis. Terutama dalam menganalisis dampak dan kepentingan isu yang terjadi. Sebab, sebagai organisatoris yang juga menjadi ujung tombak pergerakan Himma dan Ukk, harus mampu mengarahkan agar dapat berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini juga amanat dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya termaktub pengabdian pada masyarakat.

Sekali lagi saya tegaskan tidak ada tendensi apapun yang saya dan teman – teman E-Times lainya lakukan. Kami hanya merasa kesal dan lelah dipertontonkan ketidak harmonisan Internal E2C dan melihat perkembangan program yang itu – itu saja. Ini bentuk kepedulian kami agar induk organisasi kami kembali baik – baik saja dan bisa berinovasi.

Saya harap, Zidane Ketua Umum E2C mampu bersifat responsif secara ideal. Tidak bersifat responsif hanya berupa status di media sosialnya saja, dan yang menjadi persoalan bisa diimplementasikan dalam bentuk tindakan. Salam hormat dan sayang saya untuk Zidane dan semua Anggota E2C. Besar harapan saya agar Ketua Umum E2C mau membalas kritik saya, baik dalam bentuk tulisan, atau pun forum diskusi.

Sunday, March 15, 2020

SURAT DARI PEMBACA (TAKUT NEMBAK TAKUT DITOLAK)


Tanya

Hai Bang Kumis yang Rupawan. Perkenalkan nama saya Ramadhan, tinggal di kota Jakarta, usia 20 tahun, belum menikah, dan siap menikahi wanita mana pun yang mau.

Begini, sudah sejak lama saya ingin curhat di Kodok Kumis. Berkali-kali saya mencoba menulis surat, tapi selalu urung terkirim karena malu dan juga biasanya saran dari Bang Kumis bukannya menyelesaikan masalah, malah tambah bikin pusing.

Langsung aja ya. Di usia emas bagi pemain sepakbola ini, saya belum pernah merasakan nembak cewek seringnya saya di tembak. Kalo jatuh cinta sih sering ya …. Tapi ya itu, saya terlalu takut untuk mengungkapkan, karena memiliki perasaan takut ditolak.

Walaupun saya memiliki paras yang lumayan, ditunjang dengan body yang proporsional, tetapi saat berhadapan dengan wanita saya selalu “ciut”. Sudilah kiranya Abang berbagi tips agar saya bisa percaya diri, tidak takut untuk mengungkapkan perasaan pada yang saya taksir.

Segitu saja surat dari saya. Semoga mendapat jawaban yang memuaskan ….

Jawab

Dear Ramadhan yang mentalnya tak setangguh namanya ….

Begini mas Ramadhan yang mentalnya tak setangguh namanya. kamu pengin pacaran, tapi malu dan takut ditolak. Ha ngimpiiii… Itu sama seperti kamu pengin kenyang tapi nggak mau makan. Pengin tampil setil dan klimis tapi nggak mau jungkatan. Pengin pinter tapi nggak pernah mau baca buku.

Mas Ramadhan, camkan ini: “Bila kau berani jatuh cinta, kau juga harus berani cintamu jatuh”. Itu quote yang berkali-kali saya pakai , tapi saya tak pernah bosan untuk menggunakannya. Karena apa? Ya karena saya selalu mendapat curhatan macam begini dari manusia-manusia macam kamu ini.

Mas Ramadhan, Lelaki itu menang nembak, dan perempuan itu menang nolak. Itu sudah rule-nya. Kecuali kalau kamu memang cukup mempesona, kaya raya dan flamboyan sehingga sampai ada perempuan yang terkintil-kintil dan rela dengan apapun. Namun jika hal itu masih mustahil bagi kamu, ya mau nggak mau, kamu harus memberanikan diri untuk nembak. Bukankah katanya kamu punya paras tampan, punya body yang menunjang?

Mas Ramadhan, saya kasih tahu, saya ini nggak punya paras yang lumayan seperti kamu (jujur, saya masih ragu dengan pengakuan kamu), tapi puji Tuhan, saya punya mental yang lumayan. Saya berani nembak perempuan yang saya suka pertama kali di usia yang ke limabelas, lebih tepatnya pas saat saya SMP. Jawabannya sudah barang tentu kamu dan segenap pembaca tahu: Ditolak (pake “mentah-mentah”). Sedari awal, saya memang sudah memperkirakan itu. Sebab, tujuan saya nembak memang bukan sekadar agar diterima, namun juga sebagai pengalaman. Sakit? ya sakit pasti, namanya juga ditolak.

Nah, pengalaman berikutnya malah lebih memprihatinkan. Saya ditolak bahkan sebelum saya sempat nembak. Pengalaman-pengalaman menyakitkan itulah yang kelak kemudian sedikit banyak membuat saya belajar, bagaimana cara mendekati perempuan. Sungguh, pengalaman adalah guru yang baik. Sudah baik, nggak pernah nagih uang SPP juga.

Pengalaman-pengalaman itu saya percaya sebagai pembawa hal baik. Dan waktu memang membuktikan, setelah berkali-kali ditolak, toh saya akhirnya bisa punya pacar juga. Saya menembak perempuan berkali-kali. Ditolak berkali-kali. Dan tentu, semuanya dimulai dari berani nembak, dan berani ditolak.

Nah, saran saya. Mulai sekarang, cobalah untuk lebih berani. Ingat, orang berani adalah orang yang takut, sebab keberanian memang muncul akibat kemenangan atas ketakutan. Nah, bagaimana caranya agar tidak takut ditolak? Yakinkan diri kamu bahwa setiap lelaki punya daya tariknya masing-masing. Daya tarik yang hanya dimiliki lelaki tertentu dan hanya manjur untuk menarik perempuan tertentu. Dan untuk mengetahui siapakah wanita tertentu itu, caranya hanya satu: gambling.

Layaknya dadu, untuk mendapatkan angka 3, kamu terkadang harus melemparkannya berkali-kali dahulu. Terkadang, ada penjudi yang di lemparan pertama langsung mendapatkan angka 3, tapi kebanyakan penjudi mendapatkannya setelah lemparan yang kesekian kalinya.

So, mulailah melempar dadu kamu. Mulailah menembak. Mulailah belajar mengungkapkan perasaan. Jangan diniatkan untuk diterima, niatkan lah untuk cari pengalaman. Kalau ndilalah nanti diterima, ya sukur, itu bonus, bonus karena kamu mendapatkan angka 3 di lemparan yang pertama. Kalaupun nanti ditolak, itu juga bonus, sebab kamu mendapat dua pengalaman: pengalaman nembak, dan pengalaman ditolak.

Aduuuh, dunia kok indah betul ya. Sudah ya mas Ramadhan, Saya mau ke rumah Anisa dulu, mau nemenin dia beli lipstik sama bedak.

Wednesday, March 11, 2020

PERKARA PEKERJAAN DAN ORANGTUA


Kalau pekerjaannya Polisi, Dokter, TNI, Guru, tentu mudah untuk menjelaskannya kepada orangtua, tapi kalau Buzzer, Influencer, Freelancer, dan -er -er lainnya, tentu tak semudah itu.

Saya sedang duduk di sebuah warung penyetan pecel lele saat makan siang, saat menunggu pesanan makanan saya datang, sebab saat itu, baru teh anget dan air kobokannya saja yang sudah disajikan di atas meja. Di seberang saya, duduk seorang lelaki setengah baya yang juga sama-sama sedang menunggu pesanannya datang. Mungkin karena dilandasi jiwa korsa sebagai sesama lelaki yang kelaparan tapi makanan belum datang, ia kemudian berbasa-basi membangun percakapan dengan saya.

“Kuliah di mana, Mas?” tanyanya.

Saya, dengan tampang yang sebenarnya sangat tidak akademik, agak tersinggung. Maklum, sebagai anak yang kuliah gak kelar-kelar, ditanya seperti itu memang agak gremeges. Rasanya pengin saya bales, “Lha kalau sampeyan jadi dosen di mana?”, tapi tentu saja itu urung terjadi.

“iya pak, sembari kerja.”

“Ooo, kerja apa, Mas? Di mana?”

Nah, jika pertanyaan pertama bikin saya gremeges, maka pertanyaan kedua ini bikin saya bingung. Maklum saja, setiap kali ditanya kerja di mana, saya memang selalu butuh waktu ekstra untuk berpikir mencari jawabannya. Bukan karena pekerjaan saya nggak punya nama, tapi karena saya bingung, bagaimana menerangkan pekerjaan saya.

Begini, saya bekerja sebagai seorang Drafter Project di sebuah perusahaan konstruksi kaca. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan profesi ini. Pengin bilang tukang gambar, tapi saya bukan Arsitek. Pengin jawab Konseptor, tapi saya merasa kata itu masih terlalu asing.

Pada akhirnya, jawaban yang saya berikan adalah jawaban “dusta” yang saya anggap paling mudah dan paling mewakili pekerjaan saya walau secara teknis agak berbeda.

“Jadi buruh pak, di perusahaan kaca.”

Menjawab pertanyaan “kerja apa?” di jaman sekarang memang pada titik tertentu bukanlah hal yang mudah. Di era digital seperti sekarang ini, banyak pekerjaan baru yang kadang memang susah untuk dipahami oleh orang-orang tua.

Tak bisa kita mungkiri bahwa memang era digital banyak melahirkan profesi-profesi baru yang kerap tidak mudah dimengerti oleh orang-orang tua, apalagi yang tidak melek teknologi. Jangankan orang tua, bahkan untuk menjelaskan pekerjaan yang agak rumit, misal programmer atau layouter kepada kawan sendiri yang usianya sepantaran saja kadang kita begitu kesulitan untuk mencari kata-kata yang termudah.

Beberapa profesi baru muncul seiring dengan kebutuhan di era digital. Bisnis jual beli online, misalnya, melahirkan satu profesi baru bernama sprinter, yakni orang yang mengambil paket dari penjual untuk kemudian menyebarkannya ke counter-counter ekspedisi. Bisnis kampanye digital melahirkan profesi buzzer dan influencer, dua profesi yang cukup sering membikin orang bingung untuk menjelaskannya.

Berbagai profesi ini muncul tanpa banyak diduga oleh banyak orang. Jasa apa pun ada. Bahkan untuk sekadar bikin caption Facebook atau Instagram pun ada yang siap mengerjakannya. Dan kelak, aneka profesi yang “aneh” itu bakal membawa konsekuensi berupa kesulitan menerangkan pekerjaannya kepada orangtua atau calon mertua.

Kalau tidak diterangan dengan detail, hal tersebut mampu melahirkan polemik tersendiri. Seorang kawan pernah ditanya oleh seorang petugas kecamatan tentang pekerjaannya saat hendak membuat KTP. Ia menjawab “penulis” Sesaat setelah menjawab pertanyaan tersebut, si petugas kemudian langsung pasang tampang ramah. Padahal sebelumnya, wajahnya sengak bukan kepalang. Belakangan diketahui kalau si petugas kecamatan mengira kalau pekerjaan penulis itu ya wartawan. Sehingga ia takut kalau ia bersikap tidak ramah, niscaya bakal ditulis di media.

Seorang kawan saya yang lain, yang kebetulan juga penulis punya nasib yang nggak jauh berbeda. Ketika ia menjawab profesinya sebagai “penulis”, orang yang tanya itu langsung menimpali, “Oalah, sekretaris.”

Ah, betapa susahnya hal yang sebenarnya simpel begini. Saya jadi nggak bisa bayangin bagaimana kawan-kawan saya yang bekerja sebagai admin sosial media menjelaskan pekerjaannya.

“Kamu kerjanya apa, Dek?”

“Admin sosial media, Bu.”

“Admin sosial media? Itu kerjanya ngapain?”

“Ya ngurus Facebook, Twitter, sama Instagram.”

“Oalah, anak muda sekarang ya, bukannya kerja, malah Facebookan.”

Tuesday, December 24, 2019

UCAPAN SELAMAT NATAL




Setiap menjelang 25 Desember selalu muncul perdebatan-perdebatan sengit tentang hukum mengucapkan selamat natal? Ternyata hal ini seperti musim yang selalu ada dari tahun ke tahun. Mungkin musim di Indonesia ada tiga: musim kemarau, musim hujan, musim ributin ucapan selamat natal. Padahal, jika dilihat dari segi pengucapannya, selamat natal adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Anda hanya perlu menjabat tangan kerabat yang beragama nasrani, lantas mengucapkan “Selamat natal, Bro!” sambil tersenyum agar manis sedikit.

Namun, setelah perdebatan sengit di dunia maya, hal itu jadi terasa berat sekali. Tidak lebih mudah daripada kisah percintaan para jomblo. Dalil-dalil dimunculkan. Sialnya, omong kosong  tulisan dari kubu yang pro mengucapkan selamat natal dan kubu yang tidak mengizinkan ucapan selamat natal sama-sama punya kekuatan untuk membius pembacanya masing-masing. Sehingga jika kita hanya membaca salah satu darinya saja, kita pasti akan cepat-cepat menganggukkan kepala. Jika membaca keduanya? Jadi pusing kepala saya.

Saya sendiri bersepakat untuk mengucapkan selamat natal. Bukan karena tulisan-tulisan keren dari penulis lepas di situs terkenal, yang banyak memasukkan hadits, cerita, atau fakta-fakta terbaru mengenai toleransi beragama di Palestina. Melainkan dari salah satu kutipan yang saya baca di buku Teror atas Nama Tuhan karya Mark Juergensmeyer. Begini bunyinya: “Islam tidak dapat menggunakan kekerasan untuk cinta, ampunan, dan toleransi. Kecuali tanah kita diserang.” Di buku itu disebutkan bahwa kalimat tadi berasal dari Syekh Omar Abdul Rahman.

Kadang, saya berpikir lebih baik agama jadi hal yang paling intim dan sakral pada kita. Ia tak perlu dibesar-besarkan. Biarkan kita mengimani kepercayaan masing-masing tanpa harus takut dengan omongan orang lain. Karena barangkali mereka yang paling sibuk mengurusi agama lain, bisa jadi adalah orang yang paling ragu dengan agama yang ia anut.

Kembali ke ucapan selamat natal. Meski saya akan mengucapkannya kepada teman-teman nasrani, tapi saya tetap punya beberapa kondisi di mana saya tak ingin melakukannya. Sebaiknya Anda pun tidak usah melakukannya, sebab jelas haram hukumnya. Kondisi seperti apa?

Pertama, saat idul Fitri. Saya tidak akan mengucapkan selamat natal ketika idul fitri. Karena tentu selain waktunya kurang pas, tidak menyenangkan juga ketika khatib salat ied turun dari mimbar langsung kita salamin, terus bilang “Met natal, Ustadz”

Kedua, belum natalan. Saya tidak akan mengucapkan selamat natal ketika belum natalan. Misalkan natal pada tanggal 25 Desember, saya tidak akan mengucapkan selamat natal pada 25 Maret. Karena momennya tidak tepat. Juga untuk menghindari tuduhan bahwa saya tak punya kalender di rumah.

Ketiga, kepada teman-teman yang bukan nasrani. Saya tidak akan mengucapkan selamat natal kepada teman-teman yang bukan nasrani karena tentu agama mereka punya hari rayanya sendiri.
Demikian tiga kondisi yang bagi saya sangat tidak tepat untuk mengucapkan selamat natal.

Terakhir, jauhilah perdebatan mengenai hal-hal pribadi seperti agama. Karena selain tidak menguntungkan, hal itu juga belum pasti bisa membuat Anda masuk surga. Saya sendiri kurang suka berdebat soal agama, karena ngaji pun saya masih nyendat-nyendat.

Wednesday, December 18, 2019

TERIMAKASIH ETIMES


23 September 2017 saya resmi mendaftar sebagai seorang wartawan di Etimes. Berbekal hobi menulis di blog, saya memberanikan diri untuk memulai sebuah petualangan baru dalam karya literasi, hingga ditahun berikutnya bisa dipercaya menjadi pemimpin organisasi ini. Saya Bertemu dengan banyak orang yang memberikan sebuah pelajaran, membuka sebuah wawasan tentang dunia yang sebelumnya tidak pernah saya temui, memantapkan sebuah mimpi tentang karya literasi, mendapatkan sebuah jati diri dari yang selama ini saya cari, hingga bisa bertemu dengan pujaan hati.

Hari ini pengabdian itu saya akhiri, masa saya telah berhenti di organisasi ini karena tongkat estafet itu telah berganti. Sebuah pencapain yang tidak sebentar untuk menghidupkan dan memberi nyawa di etimes. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa saya akan berpisah dengan organisasi yang membuat saya tumbuh. Tapi saya percaya masa depan akan jauh lebih baik dan menjanjikan perubahan yang besar di etimes.  Sebuah gelombang, air mata, dan perpisahan tidak akan pernah lekang oleh zaman. Saya akan sealu ingat hari dimana saya memulai dan mengakhiri. Etimes akan tetap menjadi bagian dalam hidup saya.

Dalam perjalanan apapun tidak ada manusia yang bisa telepas dari sebuah konflik. Apapun konflik itu saya rasa akan menjadi sebuah pelajaran berharga dalam hidup ini. Saya di perkaya etimes untuk belajar mengambil sebuah keputusan tegas, menengahi orang yang sedang tidak baik-baik, lalu berupaya untuk memberikan solusi  agar tidak ada pribadi yang saling membenci.




Ketika organisasi ini bangun kembali dari tidur panjangnya kita berusaha untuk bisa memberikan kepercayaan kepada publik bahwa mahasiswa karyawan masih ada dan tetap bisa bersuara dalam sibuk dan lelahnya bekerja. Kita tidak apatis terhadap sesuatu perubahan, kita bisa memberikan sebuah tamparan kepada pihak – pihak yang mengecap bahwa mahasiswa karyawan minim karya. Kita dianggap hanya sebelah mata, dan hanya dijadikan sebagai objek ekonomi dari sebuah lembaga.

Kini etimes akan memasukin masa emasnya, etimes akan berkelanjutan dengan tata kelola yang baik, filosofi budaya dan konsistensi menyuarakan kebenaran dan mengembangkan bakat. Saya percaya untuk menyukseskan sebuah organisasi perlu adanya pengembangan system dan budaya organisasi yang kuat. Hari ini kita patut berbangga bahwa generasi etimes sekarang berjalan dengan semangat itu. Saya tentunya  selalu ingin penerus saya melampaui apa yang saya peroleh, jadi hal yang bertanggung jawab untuk saya dan organisasi harus lakukan adalah membiarkan orang yang lebih muda, orang-orang yang lebih berbakat mengambil alih peran kepemimpinan sehingga mereka mewarisi misi kami.

Etimes luarbiasa bukan karena pencapaian semata, tetapi tentang semangat persaudaraan yang tetep kokoh dan hangat. Terimakasih saya ucapkan kepada Pembina etimes Bpk. Dani Vardiansyah, terimakasih atas masukan dan ilmu yang bapak berikan. Kepada teman – teman seperjuangan di periode pertama dan kedua. Walaupun kita banyak terlibat perbedaan pendapat, yakinlah itu tidak akan membuat kebencian secara personal. Terimaksih banyak telah berjibaku bersama membuat etimes kembali berkembang. Teruntuk orang – orang terdekatku, Anisa. Saya bertemu dengan kamu disini, sangat menyenangkan bisa berjumpa didunia yang pada akhirnya kita kembangkan bersama. Kamu adalah orang pertama yang selalu mendukung saya saat memimpin etimes, sekarang izinkan saya untuk bertukar peran menjadi pendukung setiamu memimpin etimes. Saya percaya kamu lebih besar dari saya.

Terimakasih Etimes, saya pamit.

Monday, November 18, 2019

BUDAK CORPORATE


Kalau dipikir – pikir banyak yang ingin saya lakukan didunia ini. belajar membatik, belajar jadi dalang wayang, belajar memasak steak, menjadi seorang foodblogger. Saya juga ingin membuka online shop, menjadi seorang pengusaha makanan olahan ayam geprek, menjadi aktivis lingkungan, ingin terbebas dari system  kerja nine to five yang membosankan, tinggal di pedesaan bercocok tanam, berternak kambing dan ayam. Dan tentu saja ingin terbang ke eropa melihat lubang bumi di Portugal.

Kenyataanya usia saya sudah hampir 25 tahun, dan lokasi terjauh yang pernah saya kunjungi hanyalah ujung timur dan barat pulau jawa. Belajar membatik, dalang, memasak? lupakan saja. Satu satunya keahlian saya hanyalah menggambar gambar bangunan. Jauh dari cita cita saya menjadi seorang penulis yang kemudian bukunya diterbitkan dan best seller. Yang ada selalu mendapat makian klien jika design bangunannya tidak sesuai dengan budget mereka.

Boro – boro menjadi foodblooger atau bertani di desa. Saya terjebak di kubikel yang sempit dari pukul 9-5 sesuai kontrak kerja yang bisa diperpanjang dengan sangat fleksibel. Dengan gaji yang saya terima setiap bulanya harusnya saya bisa menyisihkan sedikit untuk pergi berlibur ke luar negeri. Sayangnya saya tak punya waktu untuk itu. Gaji ditransfer setiap bulan, tapi saya tak bisa membeli waktu untuk mendapatkan hiburan yang layak selain pergi ke tempat jamu minum anggur merah pulang pagi sampai teller.

Jangankan liburan, ada masa dimana saya lupa definisi akhir pekan. Menjadi seorang pekerja yang dituntun dengan deadline sudah menjadi hal yang lumrah. Adakalanya kita merasa tak sadar bahwa  fajar senin telah tiba.

Sekarang sudah saatnya saya pergi untuk mengejar apa yang saya inginkan. Tidak lagi menjadi budak corporate, kembali belajar menulis mengejar impian menerbitkan satu buku sebelum menikah. Keliling Indonesia mencari olahan ayam geprek yang paling enak. Menikmati indahnya tempat wisata bersama orang tersayang. Oh indahnyaaaa, sampai pada akhirnya saya lupa kalau ini hanyalah bayangan semu semata.

Baiklah mari kita bekerja kembali, duduk didepan computer di kubikel sempit. Hidup budak corporate.
MRH.

Wednesday, August 7, 2019

E-TIMES CULTURE FESTIVAL 2019


Lomba Seni tari dan menyanyi daerah Siswa SMA/SMK se derajat Jakarta – Tangerang.

Masih belum hilang dari ingatan kita, bahwasanya seni budaya Bangsa Indonesia pernah diklaim oleh negara tetangga, sebut saja tarian Bali, Reog Ponorogo, kerajinan batik, lagu Rasa Sayang-e dan angklung. Tentu saja hal ini membuat rakyat Indonesia resah, geram dan marah. Namun demikian terdapat hikmah dibalik kejadian tersebut, yaitu Bangsa Indonesia mau mengintrospeksi diri untuk memberikan perhatian lebih pada seni budaya bangsa. Hal tersebut juga menyadarkan kita bahwa seni budaya Bangsa Indonesia adalah kekayaan yang tak ternilai harganya dan harus kita lestarikan.

Dalam upaya untuk melestarikan seni budaya bangsa, beberapa langkah telah diambil oleh pemerintah Indonesia. Upaya tersebut misalnya mematenkan seni budaya asli Indonesia melalui pengakuan world heritage dari Unesco. Pemerintah juga mendorong agar penggunaan busana khas daerah terus ditingkatkan baik melalui program kebijakan maupun penetapan peraturan. Upaya Pemerintah yang tertuang dalam peraturan, yaitu mewajibkan penggunaan busana khas daerah bagi PNS. Pemerintah Daerah juga merespon upaya dari pemerintah pusat dengan menambah hari kerja untuk wajib menggunakan busana khas daerah. Kebijakan ini dapat meningkatkan taraf hidup para pengrajin busana khas daerah sehingga usaha dibidang ini menjadi tumbuh subur.

Untuk melestarikan seni budaya Bangsa Indonesia, tidaklah cukup hanya dengan pengakuan dari Unesco ataupun adanya kebijakan Pemerintah. Hal terpenting adalah kesadaran masyarakat Indonesia itu sendiri untuk memberikan apresiasi terhadap seni budaya bangsa. Ruang gerak bagi para pelaku seni budaya pun harus diperluas untuk menjamin mereka terus berkarya. Seni budaya Bangsa Indonesia juga harus dikenalkan sedini mungkin kepada anak-anak muda sebagai pewaris bangsa, sehingga akan tumbuh karakter cinta terhadap seni budaya bangsanya sendiri. Karakter mencintai seni dan budayanya sendiri adalah faktor yang penting untuk menciptakan bangsa yang berbudi luhur dan memiliki budi pekerti dalam tindakan dan pikiran sebagai refleksi dari kepribadiannya. Dengan demikian ciri khas bangsa Indonesia akan terpelihara dan terjaga kelestariannya.

Atas dasar tersebut E-times Pers mahasiswa kelas karyawan bergerak untuk ikut andil melestarikan kebudayaan nusantara dengan menghadirkan Etimes Culture Festival 2019 dalam tema “Bingkai Kebhinekaan Nusantara”. Suguhan menarik bagi anak anak muda yang ingin mengenal budanya nusantara, pasalnya Event ini akan menggiring anak muda Indonesia untuk mendengar dan melihat secara langsung pertunjukkan berbagai seni budaya bangsa. Aktivitas mendengar dan melihat akan membuat anak muda memiliki pengalaman yang menarik untuk menceritakannya kembali dan meniru apa yang mereka saksikan.


Etimes Culture Festival 2019 juga menghadirkan perlombaan seni tari daerah dan menyanyi lagu daerah nusantara tingkat SMA/SMK sederajat Jakarta - Tangerang. Disisi lain kita juga menghadirkan festival kuliner nusantara dan lomba Fotografi tingkat mahasiswa se Jakarta. Tentu saja ini menjadi salah satu awal pergerakan pemuda untuk aktif terlibat dalam pelestarian budaya. Event ini akan diselenggarakan pada 12 Oktober 2019 di Lapangan basket Universitas Esa Unggul Kebon jeruk Jakarta barat.

Jadi buat Adek-adek SMA/SMK sederajat jadikan ini sebagai momentum kalian ikut terlibat melestarikan budaya nusantara. Riko

Note : Untuk pendaftaran lomba bisa isi Fomulir di http://bit.ly/ECFlomba .

Monday, April 29, 2019

SAYA


Saya tidak mewakili siapa-siapa, selain diri saya sendiri. Saya takut naik pesawat terbang, susah tidur malam, tidak menyukai kerumunan manusia, dan saya punya selera yang buruk tentang music tidak ada satu lagu barat yang bisa saya hafal selain lagu ulang tahun. Saya tergolong pelupa yang akut, terutama untuk mengingat barang- barang yang belum ada satu jam saya pegang, nomor telepon, nama jalan, alamat surat elektronik, istilah-istilah, rumus-rumus, termasuk kutipan-kutipan di dalam buku-buku dan kitab-kitab suci. Pengetahuan saya buruk sekali menyangkut otomotif dan komputer. Tapi entah kenapa saya bisa nyangsang di fakultas komputer Universitas Esa Unggul.

Saya suka membaca buku, dan suka menulis. Buku-buku yang saya sukai adalah buku-buku sejarah, termasuk biografi, dan buku-buku ekonomi-politik. Seorang penulis yang baik, menurut saya, adalah seorang pekerja keras dan mau belajar, terutama belajar mengenal dirinya sendiri dan batas-batas kemampuannya. Jika mengerjakan suatu penulisan, saya suka tenggat yang mepet, atau saya terkadang sengaja mencari rasa sakit hati untuk bisa menjadi keresahan dalam hati yang mana itu modal baik untuk menciptakan ide dalam tulisan saya. Di saat seperti itulah, di dalam tekanan waktu dan tanggungjawab, saya merasa menemukan diri saya dan kekuatan-kekuatan yang saya miliki, yang kerap kali tidak saya sadari. Saya penikmat kopi, terutama kopi kapal api sasetan. Saya suka memasak, skill itu saya pelajari saat saya tinggal berdua dengan Bapak saya. Tempat favorit saya adalah kamar saya sendiri. Saya tahan berminggu-minggu berada di dalam kamar, sendirian. Jika sudah seperti itu, paling-paling yang bisa saya kerjakan hanyalah menonton televisi dan film di dalam kamar, atau pergi ke toko buku, berkeliling dari satu rak ke rak yang lain, berbelanja buku sebanyak-banyaknya, capek, lalu pulang.Saya menyukai perjalanan, terutama dengan menggunakan moda transportasi darat . Saya suka naik kereta api . Di dalam hal ini, saya suka kelambatan, saya menikmati perjalanan itu sendiri dan bukan tujuan, peristiwa-peristiwa di sekitar, dan momen-momen yang bergerak lambat. Untuk menjaga kesehatan, saya hanya melakukan dua hal: rajin minum air putih dan rajin berjalan kaki.

Perihal asmara saya tergolong lelaki yang tidak royal dan tidak gonta ganti pasangan. Hampir setiap menjalani hubungan umur hubungan tersebut berjalan lama. Bagi saya kriteria pasangan itu hanya ada dua, yang penting seiman dan satu frekuensi dalam pemikiran maka saya akan dengan mudah mencintai wanita tersebut.

Saya penggemar tontonan sepakbola yang saya nikmati lewat layar kaca. Dan saya punya hubungan emosional yang kuat dengan Timnas Indonesia. Jika Timnas berlaga, perasaan saya berkecamuk. Dan jika Timnas memenangi pertandingan, saya merasa hidup saya luar biasa, sebaliknya jika kalah, saya merasa hidup ini menyedihkan.

Saya percaya kepada pengaruh energi positif, kebaikan manusia dan solidaritas sosial demi masa depan kehidupan yang lebih baik, juga kebalikannya. Saya percaya kepada karma, dan kadang-kadang saya percaya kepada reinkarnasi. Saya suka berkenalan dan bekerjasama dengan orang, terutama yang merasa punya tanggungjawab dan agenda sosial. Saya suka berkenalan dengan orang-orang baru yang berenergi positif, sekaligus saya tidak pernah menyesal untuk meninggalkan orang-orang lama yang saya anggap berenergi negatif dalam hidup saya. Di dalam hidup ini, saya berusaha menjaga sikap optimistis sekalipun saya kerap didera pesimistis.

Sejak kecil sampai sekarang, entah kenapa, saya selalu menyimpan sejenis cita-cita untuk menjadi seorang wartawan yang ikut menyelidiki kasus pembunuhan bayaran.