Dihentikannya kegiatan
perkuliahan karena virus corona menimbulkan banyak masalah. Selain kuliah
online yang dianggap tidak efektif, masalah lain yang muncul adalah tentang bayaran
uang semeseter. Pasalnya sebagian mahasiswa kelas karyawan yang memang membayar
uang semester dari hasil kerjanya mengalami penurunan penghasilan karena
pemangkasan gaji serta banyak yang terkena PHK dari Perusahaan tempat mereka
bekerja. Dari hal tersebut banyak mahasiswa meminta untuk uang semester digratiskan
atau setidaknya diberi diskon.
Tapi apakah mungkin?
Sebenarnya, bisa. Sesuai SE PLT
Dirjen Dikti dengan nomor surat 302/E.E2/KR/2020, pimpinan Perguruan Tinggi
diberi otoritas penuh untuk mengambil keputusan terkait kebijakan yang paling
pantas dan sesuai untuk tiap universitas. Keputusan ada di tangan para rektor Universitas di mana kita menjalani kuliah.
Tapi seharusnya memberikan
potongan atau menggratiskan biaya semester adalah kebijakan yang harus diambil.
Dampak virus corona yang masif membuat semua orang kesulitan dalam hal ekonomi.
Banyak usaha yang mengalami penurunan pemasukan, dan beberapa perusahaan
memotong gaji para karyawan. Praktis ini membuat banyak mahasiswa harus
benar-benar mengatur uang yang mereka punya untuk bertahan hidup.
Tapi masak ya nggak punya
tabungan untuk bayar semesteran? Ya ada, tapi bukan berarti uang itu semata untuk
bayar semesteran saja. Belum tentu juga dalam 2-3 bulan ke depan wabah ini
membaik dan kegiatan ekonomi berlangsung normal. Situasi yang dihadapi ini
datang mendadak, tidak ada negara yang siap menghadapi ini, apalagi para mahasiswa karyawan yang mengandalkan uang bayaran semester secara mandiri.
Dampak yang dirasakan tidak
mengenal kalangan. Jika tidak dipotong atau digratiskan, mahasiswa merasakan
dua kerugian. Pertama semester sekarang yang berlangsung tidak optimal. Kedua,
semester depan pun tidak menjamin akan berjalan normal. Jika tetap harus
membayar sesuai angka normal, beban yang harus ditanggung benar-benar berat.
Belakangan kampus - kampus seakan
membuat kebijakan terhadap dampak Virus corona ini. Contohnya, tunjangan kuota
untuk para pegawai dan mahasiswa untuk kegiatan kuliah online. Jika satu kampus
memulai tindakan tersebut, kampus lain kemungkinan akan mengikuti.
Bijaknya memang Universitas tidak
mengambil keuntungan atau merencanakan pembangunan dalam waktu dekat. Melihat
keadaan yang ada, tidak elok rasanya tetap memaksakan mahasiswa membayar dengan
penuh. Di titik ini, logika kapitalisme harus dikesampingkan dan mengedepankan
kemanusiaan.
Memotong atau menggratiskan uang
semesteran seharusnya bukanlah beban bagi Universitas. Universitas pun terkena
dampak dari corona, dan harusnya terlintas juga di pikiran mereka bagaimana
dampaknya ke mahasiswa. Pembangunan atau hal lain yang tidak mendesak harusnya
tidak menjadi alasan untuk memaksa mahasiswa membayar penuh.
Saat ini adalah saat paling tepat
untuk para petinggi universitas untuk mendengar suara mahasiswa. Dan mereka
juga harusnya tau, ini bukan perkara uang semester, tapi juga perkara
kemanusiaan.
0 comments:
Post a Comment