Monday, March 23, 2015

BOLLYWOOD DAN REALITA KEHIDUPAN.

Beberapa bulan belakangan ini gue lagi tergila gila dengan film bollywood. Semua berawal dari film 3 idiot yang di bintangi Amir khan. Film tentang perjalanan 3 sahabat di salah satu universitas teknologi di india dalam meraih sebuah kesuksesanya.
Sejak itulah gue jadi rajin banget donlot film film bollywood, bahkan sekarang semua tentang budaya india mulai gue sukai.

Film Bollywood sering disebut-sebut sebagai cerminan masyarakat India. Tapi kini makin sering didiskusikan, sebetulnya film-film itu merupakan citra yang diimpikan warga India untuk melupakan realitas keseharian.

Cinta abadi, kegembiraan yang meluap, kesedihan amat mendalam dan tantangan berat. Dalam film-film Bollywood cinta pasangan pelakon utama, seringkali diuji lewat kesiapannya untuk berkorban.

Ciri khas jalan cerita film Bollywood adalah memancing emosi penonton yang ibaratnya menaiki rollercoaster, naik dan turun amat cepat. Walaupun penonton tahu, bahwa di akhir cerita, pasti akan adegan "happy ending" yang ditampilkan, mereka tetap terpukau.

Sebagian artis bollywood memiliki paras yang tampan dan cantik, Sebut saja Katrina kaif , deepika padukone , kareena kapoor , anuskha Sharma dll, siapa yang tak di buat terpesona oleh kecantikan nya ? biasanya di setiap film mereka mengenakan busana warna warni dengan paduan kain sari khas india untuk menari atau menyanyi di saat bahagia maupun sedih.

Dari salah satu artikel yang gue baca dari sebuah media online, film bollywood memang mempengaruhi warga dan masyarakat. sekaligus menunjukkan realita, bahwa hal itu samasekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata para penontonnya.

Jadi adegan ketika shahrukh khan nyium kajol tanpa nyepik atau adegan hitrik roshan buka baju terus langsung di peluk Kareena kapoor itu sebetulnya gak ada dalam kehidupan.

Masyarakat India tetap terpisah lewat hierarki yang ketat. Memang sistem kasta secara resmi sudah dihapus, seiring diberlakukkannya konstitusi dari tahun 1950. Tapi di kawasan pedesaan sistem kasta yang diskriminatif itu masih tetap diterapkan.

Masyarakat India pasca tahun 1990-an memang diakui makin toleran dan terbuka, seiring kemajuan ekonomi dan pendidikan. Tapi perbedaan kelas tetap eksis. Dalam kisah film, pembatasan di antara dua orang yang bercinta, dapat dengan mudah diruntuhkan. Tetapi dalam kenyataannya tidak begitu.
Seperti dalam film HUMPTY SHARMA yang di bintangi Alia bhatt dan Varun dhawan , dimana di saat Si alia bhat hendak menikah begitu gampanya di kacaukan oleh varun.

Lebih dari dua pertiga dari 1,2 milyar penduduk India, sesuai data sensus tahun 2011, bermukim di pedesaan. Sekitar 90 persen perkawinan diatur dan ditentukan oleh keluarga, jadi tidak bebas berdasar cinta.

Perkawinan antara pemeluk agama yang berbeda, di mana di India 80 persen warga memeluk agama Hindu dan 16 persen Islam, juga sangat jarang terjadi. Namun film-film Bollywood seperti "Bombay" (1995), "Gadar" ( 2001), "Veer Zaara" (2004) atau "Jodhaa Akhbar" (Akbar, 2008) menggambarkan terobosan atas tabu ini.

Tidak mengherankan jika bintang film kenamaan Shah Rukh Khan dan Saif Ali Khan yang beragama Islam, dijadikan idola, karena dalam kehidupan nyata, mereka menikah dengan wanita beragama Hindu.

Sutradara kenanamaan Kunal Kohli, yang antara lain membuat film percintaan yang suskes di pasaran "Hum Tum" ( 2004) atau"Fanaa" (2006) mengatakan, film tidak bisa sejauh itu mengubah tata kemasyarakatan, Film tidak benar-benar mempengaruhi kehidupan nyata, walaupun basisnya diambil dari kehidupan nyata.

Penulis terkemuka India, Javed Akhtar menambahkan : "Film Bollywood memang merefleksikan apa yang terjadi dalam masyarakat. Tapi itu refleksi keinginan, harapan, nilai dan tradisi. Film India bukan refleksi realita, melainkan merefleksikan impian masyarakat."

Memang ada film yang menampilkan isu nyata, walau tidak banyak. Misalnya "Maqbool" (2003 karya Vishal Bhardwaj ), yang memotret tema mafia di Mumbai. Atau karya Anurag Kashyap's, Black Friday (2004), terkait serangan bom di Mumbai dan kerusuhan sektarian antara kaum Hindu dan Muslim.


Artis kenamaan Vidya Balan menegaskan: "Untuk membuat film Bollywood yang sukses resepnya hanya tiga macam, yakni hiburan, hiburan dan hiburan."

Memang benar Sinema hanya memiliki satu arti, yakni hiburan. Kita tidak bisa mengharapkan sutradara menunjukkan realita keras sehari-hari. Ini bukan tugas film-film komersial,

Yang jelas gak semua hal indah yang di lakukan di film bollywood itu adalah realita di masyarakat, dan kita sebagai penikmat film tentu harus membuat batasan dalam menikmatinya. Agar sisi negatife tidak kita terima. (MRH)
 




Saturday, March 21, 2015

52 MINGGU MENJOMBLO



Malam minggu ini tepat satu tahun anniversary gue jadi jomblo. Satu tahun gue habisin hidup tanpa tanbatan hati , tanpa ngapel di malam minggu , tanpa saling ngingetin buat makan atau hanya sekedar ucapan selamat pagi.

Kalau ngomongin usaha buat cari pacar kayaknya gue gak habis habisnya deh, beberapa orang pernah deket sama gue beberapa bulan belakangan ini, tapi endingnya sama aja, kalau gak dia diam diam punya pacar palingan ngira gue homo. Kayak ada yang salah gitu sama hidup gue.

Tadi siang gue dicurhatin temen yang udah lama nggak pacaran juga , tentang dia yang nggak pernah jodoh sama orang yang dia suka. Kadang ada yang dia suka, ternyata udah punya pacar. Ada yang nggak punya pacar, dianya nggak suka. Giliran dianya suka sama yang nggak punya pacar, yang nggak punya pacar itu yang nggak suka sama dia..

Kalau di tanya pacar sama temen, gue cuman bisa alibi . Kadang ngakunya banyak yang suka, tapi masih belum ada yg sreg.. Kadang bilangnya udah terlanjur nyaman, lagi pengin sendiri dulu aja.. Alesan yang dibuat-buat supaya nggak terlihat terpuruk.

Tapi dari yang gue rasain, alesan sesungguhnya orang yang lama sendirian adalah, masih terperangkap di masa lalu. Bisa karna masih sayang, bisa juga karna hubungan lamanya belum selesai dan masih ngegantung. Atau bisa juga karna kemakan omongan. Udah terlanjur jelek-jelekin mantan dan bilang ke orang-orang nggak bakal balikan, taunya sadar masih sayang, tapi keburu gengsi buat balikan. Ribet sendiri..

Emang udah paling bener kalau putus jangan jelek-jelekin mantan. Karna gimanapun juga dia pernah ada buat kita kan?

Semakin banyak ngasih alesan, sebenernya semakin menyedihkan gue di mata orang-orang.

Bagian paling sakit dari sendirian adalah kesepian. Mungkin gue bebas ketika sendirian, tapi yang pasti gue kesepian. Mungkin bisa ngaku happy karna punya banyak teman, tapi ketika pulang dan sendirian, tetep aja kesepian.(MRH)

Thursday, March 19, 2015

SEMUA TEMAN AKAN SIBUK PADA PACARNYA



’santai bro, gue bakal tetep asik koq. Gue bakal tetep nongkrong walaupun gue udah punya cewek’
Statmen yang bertahan Cuma 3 bulan di sebuah hubungan pertemanan.

Akhir2 ini gue lagi berpikir serius karena merasa sedang di hantui krisis teman.
Jadi cerita nya gini, beberapa teman deket gue sedang mengalami fenomena asmara yang menyebabkan runtuhnya konsistensi pertemanan di antara kami.
Fenomena ini terjadi akibat adanya kontradiksi hati yang menimbulkan sebuah pilihan antara teman atau pacar. Waktu waktu yang mereka harusnya luangkan untuk berkumpul dengan teman , malah mereka luangkan dengan pacar mereka.

Sebenarnya buat gue gak ada masalah mereka mau tetep ngumpul apa nggak, gue juga gak bisa ngelarang ngelarang, mereka masih punya kehidupan lain koq.  Tapi yang gue permasalahin adalah tentang konsistensi pertemananya.
Dulu pada ngumbar janji bakalan tetep asik , tapi nyatanya buat ngumpul aja kalian banyak alibinya.
Datang kalau lagi ada maunya , atau lagi susah aja. Hey guys sory, gue bukan tebu yang bisa lo ambil manisnya doang.

gue ngomong gini bukan semata mata karena gue jomblo yang selalu mendiskriminasi setiap pasangan yang lagi bahagia, gue ngomongin gini karena gue peduli , gue gak kepengen kita terpisah jarak cuma gara gara masalah cinta. Emang sih masalah yang satu ini sensitive banget.
Apalagi gue pernah ngalamin hal kaya gini pas jaman SMA dulu, waktu itu gue lebih mentingin nganterin cewek gue belanja pakaian dalem , ketimbang ikut main futsal sama temen gue yang emang udah di rencanain jauh jauh hari.

Sebagai teman, gue Cuma bisa ngingetin, bukan diam-diam gue perbincangkan. Gue disini Cuma mau ngingetin aja koq gak lebih dari itu.

Seringkali lo menghabiskan detik demi detik waktu lo sendiri hanya untuk sang kekasih, tanpa celah. Mungkin menurut lo, terlalu berharga waktu kalau harus dihabiskan untuk kami. Bahkan pekerjaan lo sendiri.

Gue juga tau, pacar lo sesuatu yang teramat berharga. Bahkan lo sendiri kerap menunjukkan kepada dunia ‘luar’ kalau pacar lo adalah yang terbaik dari yang terbaik. Semua orang berhak tau kalau pacar lo sangat istimewa. kalian memang pasangan paling bahagia, yang kami lihat dari media social.

Sekali lagi gue cuma  mengingatkan. Yang lo lakuin semuanya adalah proses ‘pencarian sesuatu' terhadap kekasih lo. Ketika lo menganggap orang yang baru mengisi hidup adalah jodoh lo sendiri, belahan jiwa lo, atau seseorang yang pantas jadi ibu atau ayah dari anak-anak lo nanti, itu Cuma karena rasa penasaran lo doang. Sekali lagi, penasaran.

Entah beberapa bulan setelahnya, setelah gak ada lagi yang lo ‘cari’ dari pacar lo,  Gue cuma  ingin tanya, apakah lo masih bisa melakukan semua ini ??

Jangan terlalu cepat untuk menyimpulkan kawan.(MRH)