Sudah beberapa hari ini kita
dibombardir dengan apa yang disebut Kenormalan Baru (New Normal), tapi jika
kita teliti lebih lanjut, semua hanya berupa petunjuk teknis bagaimana
melaksanakan normal baru itu, tanpa perubahan dan cara pandang baru. Kita
diminta menjaga jarak, memakai masker, rajin mencuci tangan, dan sejenisnya.
Namun, kita tidak diminta untuk merefleksikan dengan cara pandang baru bahwa
jika kita serakah dan gegabah terhadap alam, alam akan memberi kita hukuman.
Dan bisa jadi, hukuman ke depan, lebih keras dari corona. Lebih mematikan.
Lebih membuat kita menderita baik secara fisik maupun psikis.
Apakah normal baru diiringi oleh
kesadaran baru? Dan apakah kesadaran baru diikuti dengan tata aturan baru?
Kenapa pemerintah tidak segera membuat semacam renungan nasional yang mengakui
bahwa kita bangsa Indonesia, selama ini ikut serta bersama bangsa-bangsa lain,
mengeksploitasi alam secara berlebihan, dan karena pandemi corona ini maka kita
sebagai sebuah bangsa menyepakati akan menjadi salah satu pelopor untuk usaha
bersama agar perusakan alam segera dihentikan. Setelah itu diikuti dengan
sekian aturan baru yang lebih ketat, yang terutama berurusan dengan tambang,
pertanian homogen skala luas, pemakaian bahan bakar fosil yang masif, dll.
Jangan-jangan tidak ada pelajaran
yang bersifat lebih etis dan paradigmatik soal pandemi corona ini. Sehingga
diamnya kita, lesunya kita, puyengnya kita, itu hanyalah jeda sementara, yang
kelak akan membuat kerusakan yang lebih besar di bumi ini.
Kemudian ketika kita kelak akan mengalami semacam pandemi corona yang lebih mematikan, kita kembali menangis melolong, menyesal, dan terlihat begitu bodoh. Namun sayang, ketika hal itu terjadi lagi, kita semua sudah telat. Lalu alam akan meninggalkan kita dengan mengumpat: dasar manusia tak tahu diuntung!
0 comments:
Post a Comment