Monday, February 12, 2018

SURAT RINDU UNTUK IBU


Bu, membuka surat ini dengan menanyakan kabarmu kurasa terlalu baku. Beberapa menit yang lalu kita baru saja bertukar kabar via pesan singkat di ponsel. Tapi, hari ini di tengah hiruk pikuknya kesibukan, terselip rindu padamu yang tak bisa aku ucapkan. Entah dengan alasan malu atau mungkin kedekatan kita yang tak seintens dulu. Karenanya surat ini tentang rindu yang sulit terucap, tentang sayang yang tak sempat terkatakan.

Mungkin saat membaca ini ibu sedang sibuk membersihkan rumah atau tengah sibuk memberi ceramah kepada si rafi yang ndableg nya minta ampun. Di tengah rutinitas itu aku berharap ibu sempat membaca nya.

Pernah terbesit di benak ibu mengapa tak pernah mendengar kata rindu dari ku, atau bahkan mendengar kata sayang yang terucap dari mulutku. Entah mengapa kalimat manis itu amat sangat berat di ungkapkan. Dan pada akhirnya hanya pernyataan ingin pulang yang mewakili ungkapan rindu itu. Berbeda dengan annisa kekasih ku yang dengan mudah mengucap itu tanpa beban.

Oh iya aku hampir lupa bu, sekarang aku sudah punya kekasih. Annisa namanya , wanita yang ku kenali saat liputan di kampus. dia wanita periang yang mengajariku betapa menyenangkan nya menjadi diri sendiri. seseorang yang membuat ku untuk berani berkomitmen kembali setelah 4 tahun ini aku sama sekali tak peduli dengan sebuah hubungan berkomitmen. tapi sayang bu annisa masih belum bisa membedakan mana sabun detergen mana sabun mandi hehehe, maklum bu annisa lebih sering ngelondri dari pada nyuci. Kalau soal masakan ibu tak usah khawatir, dia sudah bisa membedakan mana gula dan mana garam, masakan dia juga enak koq bu walaupun terkadang rasa pedas lada nya lebih dominan ketimbang pedas cabai. Initnya aku bahagai menjalani hari bersama dia, karena kita tau kita saling mencintai karena kekurangan kita masing masing.

Mungkin kalau dipikir-pikir ini terdengar lucu ya, Bu. Dulu saat kita dekat, kita sering berdebat. Ya, itu karena kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang masa depan. Aku yang ingin menentukan kemana arahku nanti sementara ibu tetap bersikekeh kalau aku harus menjadi seorang pegawai negeri seperti kebanyakan keluarga kita. Tapi percalah bu aku disini penuh dengan tanggung jawab dengan apa yang telah aku pilih.

Bu, bisa jadi alasan mengapa aku sulit berucap rindu, semata karena aku ingin membahagiakan Ibu bukan dengan ‘sekadar’ ucapan. Aku ingin membahagiakanmu dengan tindakan. Meski kadang ucapan rindu juga diperlukan sebagai bukti sayang. Aku sadar betul bahwa agenda untuk membahagiakanmu selalu kalah dengan segudang impian yang sudah kurencakan.

Kendati ucapan rindu dan sayang tak pernah ku utarakan , mendoakanmu menjadi agenda wajib setelah lima waktu ku tunaikan.

Setidaknya mendoakanmu menjadi agenda wajibku setelah selesai solat. Hanya doa yang bisa kubisingkan, semoga ibu tetap dalam lindungan allah swt. Titp salam untuk tata, rafi , mbah kakung dan mbah uti. Aku menyayangi kalian.


Salam rindu dari rantau.
MRH

0 comments:

Post a Comment