Bu, membuka surat ini dengan
menanyakan kabarmu kurasa terlalu baku. Beberapa menit yang lalu kita baru saja
bertukar kabar via pesan singkat di ponsel. Tapi, hari ini di tengah hiruk
pikuknya kesibukan, terselip rindu padamu yang tak bisa aku ucapkan. Entah
dengan alasan malu atau mungkin kedekatan kita yang tak seintens dulu.
Karenanya surat ini tentang rindu yang sulit terucap, tentang sayang yang tak
sempat terkatakan.
Mungkin saat membaca ini ibu
sedang sibuk membersihkan rumah atau tengah sibuk memberi ceramah kepada si
rafi yang ndableg nya minta ampun. Di tengah rutinitas itu aku berharap ibu
sempat membaca nya.
Pernah terbesit di benak
ibu mengapa tak pernah mendengar kata rindu dari ku, atau bahkan mendengar kata
sayang yang terucap dari mulutku. Entah mengapa kalimat manis itu amat sangat
berat di ungkapkan. Dan pada akhirnya hanya pernyataan ingin pulang yang
mewakili ungkapan rindu itu. Berbeda dengan annisa kekasih ku yang dengan mudah
mengucap itu tanpa beban.
Oh iya aku hampir lupa bu, sekarang
aku sudah punya kekasih. Annisa namanya , wanita yang ku kenali saat liputan di
kampus. dia wanita periang yang mengajariku betapa menyenangkan nya menjadi
diri sendiri. seseorang yang membuat ku untuk berani berkomitmen kembali
setelah 4 tahun ini aku sama sekali tak peduli dengan sebuah hubungan
berkomitmen. tapi sayang bu annisa masih belum bisa membedakan mana sabun
detergen mana sabun mandi hehehe, maklum bu annisa lebih sering ngelondri dari
pada nyuci. Kalau soal masakan ibu tak usah khawatir, dia sudah bisa membedakan
mana gula dan mana garam, masakan dia juga enak koq bu walaupun terkadang rasa
pedas lada nya lebih dominan ketimbang pedas cabai. Initnya aku bahagai
menjalani hari bersama dia, karena kita tau kita saling mencintai karena
kekurangan kita masing masing.
Mungkin kalau dipikir-pikir ini
terdengar lucu ya, Bu. Dulu saat kita dekat, kita sering berdebat. Ya, itu
karena kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang masa depan. Aku yang
ingin menentukan kemana arahku nanti sementara ibu tetap bersikekeh kalau aku
harus menjadi seorang pegawai negeri seperti kebanyakan keluarga kita. Tapi percalah
bu aku disini penuh dengan tanggung jawab dengan apa yang telah aku pilih.
Bu, bisa jadi alasan mengapa aku
sulit berucap rindu, semata karena aku ingin membahagiakan Ibu bukan dengan
‘sekadar’ ucapan. Aku ingin membahagiakanmu dengan tindakan. Meski kadang
ucapan rindu juga diperlukan sebagai bukti sayang. Aku sadar betul bahwa agenda
untuk membahagiakanmu selalu kalah dengan segudang impian yang sudah
kurencakan.
Kendati ucapan rindu dan sayang
tak pernah ku utarakan , mendoakanmu menjadi agenda wajib setelah lima waktu ku
tunaikan.
Setidaknya mendoakanmu menjadi
agenda wajibku setelah selesai solat. Hanya doa yang bisa kubisingkan, semoga
ibu tetap dalam lindungan allah swt. Titp salam untuk tata, rafi , mbah kakung
dan mbah uti. Aku menyayangi kalian.
Salam rindu dari rantau.
MRH
0 comments:
Post a Comment