Seorang penjual Koran naik dari pintu depan, dari pintu samping naik pula seorang pedagang asongan saling sikut dengan pengamen jalanan, tak ada yang peduli. Semua wajah terlihat awas, dalam tingkatan awas yang paling tinggi. Yang tak terjaga para penumpang tidur, mendengkur seperti nada nyanyian yang tak rapi.
Aku meng update status ku, “on the way to Tegal” begitu ku tulis disana, tak lama berselang seorang anak menangis, agaknya hawa panas dan asap rokok membuatnya sedikit batuk, namun tangisnya tangis bayi Indonesia, bayi kurang asi dan kurang gizi. Sang ibu mengipas-ngipaskan kain gendongan agar sang bayi diam, kancing atas bajunya masih terbuka sebelah payudaranya masih menyembul keluar agaknya ia baru selesai menyusui.
Masih terlihat bekas kejayaan dari bus ini, lobang AC, kotak speaker, kotak televisi, namun semua sudah tak berfungsi, selain miring kekiri, sebagian kaca telah berganti plastik bening, bahkan ada yang di tambal dengan papan triplek, tua berkarat termakan zaman.
Jadwal keberangkatan pada tiket bus tertera jam 12.00 namun sekarang sudah jam 12.58 tanda-tanda bus akan berangkat belum juga terlihat. Aku menatap keluar jendela, alangkah indahnya pemandangan ini; calo-calo tiket berebut penumpang, calo manyun penumpang ngedumel, kuli panggul berteriak-teriak bayaran kurang, pengamen waria nan seksi menembangkan lagu sepiring berdua, penjaga wc umum, sepasang muda-mudi, penjual buah makan somai, penjual somai makan buah, tukang copet berdebat dengan pengemis tentang partai politik, ibu-ibu yang menangis kehilangan dompet dan kalung emas imitasi, judi dadu, polisi yang ikutan main dadu, genangan air, tumpukan sampah, ayam yang lepas dari kurungannya, memberi perjalanan ini sejuta rasa sejuta cita.
Ku toleh ke belakang duduk sepasang muda-mudi, mesra sekali sepertinya cinta mereka cinta sejati, tak kan terceraikan oleh badai halilintar nan bergemuruh sekalipun. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain, yang perempuan senyum tersipu dan yang laki juga senyum tersipu kala ku Tanya tujuan mereka. Kala ku Tanya nama dan dari mana mereka, mereka pun masih senyum tersipu, aku maklum cinta memang membuat dunia bisa disenyam-senyumi.
Seorang kernek naik, membawa sehelai kertas kemudian ia berdiri di depan dan mulai mengabsen satu persatu para penumpang, sepertinya bus sudah akan berjalan. Absen tersebut penuh protes dari para penumpang; “mang Kohar sedang mencari tembakau!” teriak wanita paru baya ketika nama Kohar diteriakkan sang kernek, lainnya; “si anu sedang ke toilet!, “si anu sedang di loket!”, “si Judin sedang membeli obat gosok!”
Selesai mengabsen posisi kernek berdiri digantikan seorang seniman, seniman jalanan ciri-cirinya tentu rambut kriting gondrong, tatapannya liar, kemejanya bau dan kotor celananya butut lagi sobek, di saku celana belakang plastik bungkus permen kopiko terlipat rapi, rapi sekali. Mulailah ia membacakan berbait-bait puisi.. tentang korupsi, tentang reformasi, tentang pak menteri dan tentang kawin lari. Tak ada yang memberi uplaus hanya sepasang muda-mudi yang duduk di belakang ku tersenyum manis tapi sang seniman tak peduli, ia hanya peduli pada isi plastik bungkus permen setelah ia edarkan keliling dari bangku depan hingga bangku belakang, sedikit murung ia mengucapkan terimah kasih dan mendo’akan keselamatan bagi para penumpang. Aku menambahkan dalam status ku “puisi mu Indonesia sekali kawan! Sayonara”.
Bus ini sudah padat, penuh sesak oleh penumpang dan barang, di bawah-bawah jok penuh oleh kardus-kardus dan kantong-kantong plastik, di bagasi bawah berbagai macam sayur, cabe, kopi, barang pecah bela ditumpuk-tumpuk. Di bagian atas; ayam, kambing, sepeda motor, kasur, barang-barang penumpang sungguh beraneka ragam. Bangku duduk penumpang pun sudah ditambah-tambah, dimuat-muatkan semuat-muatnya. Naasnya di luar sana calo-calo masih saja berteriak “kosong… kosong… kosong… ayo naik brangkat…!!!”.
Supir melompat ke tempat duduknya, mesin menyala, tembang melayu diputar yang tidur pun terjaga, dan kepala pun perlahan-lahan mulai bergoyang mengikuti irama. Indah nian alunan musiknya. Dua orang gadis kampung nan semok yang duduk di bangku sebelah supir pun mulai menggoda, “ayolah.. bang yang keras diputar musiknya…!”
Bus perlahan bergerak, mendekati gerbang keluar terminal, kernek melemparkan sejumlah uang kepada petugas. Tak ada karcis, tak ada kwitansi, tak ada tanda terima, indah sekali permufakatan ini.
Seiring bus yang bergerak semakin jauh, aku menulis lagi; “how beautiful Indonesia!”
MRH
Aku meng update status ku, “on the way to Tegal” begitu ku tulis disana, tak lama berselang seorang anak menangis, agaknya hawa panas dan asap rokok membuatnya sedikit batuk, namun tangisnya tangis bayi Indonesia, bayi kurang asi dan kurang gizi. Sang ibu mengipas-ngipaskan kain gendongan agar sang bayi diam, kancing atas bajunya masih terbuka sebelah payudaranya masih menyembul keluar agaknya ia baru selesai menyusui.
Masih terlihat bekas kejayaan dari bus ini, lobang AC, kotak speaker, kotak televisi, namun semua sudah tak berfungsi, selain miring kekiri, sebagian kaca telah berganti plastik bening, bahkan ada yang di tambal dengan papan triplek, tua berkarat termakan zaman.
Jadwal keberangkatan pada tiket bus tertera jam 12.00 namun sekarang sudah jam 12.58 tanda-tanda bus akan berangkat belum juga terlihat. Aku menatap keluar jendela, alangkah indahnya pemandangan ini; calo-calo tiket berebut penumpang, calo manyun penumpang ngedumel, kuli panggul berteriak-teriak bayaran kurang, pengamen waria nan seksi menembangkan lagu sepiring berdua, penjaga wc umum, sepasang muda-mudi, penjual buah makan somai, penjual somai makan buah, tukang copet berdebat dengan pengemis tentang partai politik, ibu-ibu yang menangis kehilangan dompet dan kalung emas imitasi, judi dadu, polisi yang ikutan main dadu, genangan air, tumpukan sampah, ayam yang lepas dari kurungannya, memberi perjalanan ini sejuta rasa sejuta cita.
Ku toleh ke belakang duduk sepasang muda-mudi, mesra sekali sepertinya cinta mereka cinta sejati, tak kan terceraikan oleh badai halilintar nan bergemuruh sekalipun. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain, yang perempuan senyum tersipu dan yang laki juga senyum tersipu kala ku Tanya tujuan mereka. Kala ku Tanya nama dan dari mana mereka, mereka pun masih senyum tersipu, aku maklum cinta memang membuat dunia bisa disenyam-senyumi.
Seorang kernek naik, membawa sehelai kertas kemudian ia berdiri di depan dan mulai mengabsen satu persatu para penumpang, sepertinya bus sudah akan berjalan. Absen tersebut penuh protes dari para penumpang; “mang Kohar sedang mencari tembakau!” teriak wanita paru baya ketika nama Kohar diteriakkan sang kernek, lainnya; “si anu sedang ke toilet!, “si anu sedang di loket!”, “si Judin sedang membeli obat gosok!”
Selesai mengabsen posisi kernek berdiri digantikan seorang seniman, seniman jalanan ciri-cirinya tentu rambut kriting gondrong, tatapannya liar, kemejanya bau dan kotor celananya butut lagi sobek, di saku celana belakang plastik bungkus permen kopiko terlipat rapi, rapi sekali. Mulailah ia membacakan berbait-bait puisi.. tentang korupsi, tentang reformasi, tentang pak menteri dan tentang kawin lari. Tak ada yang memberi uplaus hanya sepasang muda-mudi yang duduk di belakang ku tersenyum manis tapi sang seniman tak peduli, ia hanya peduli pada isi plastik bungkus permen setelah ia edarkan keliling dari bangku depan hingga bangku belakang, sedikit murung ia mengucapkan terimah kasih dan mendo’akan keselamatan bagi para penumpang. Aku menambahkan dalam status ku “puisi mu Indonesia sekali kawan! Sayonara”.
Bus ini sudah padat, penuh sesak oleh penumpang dan barang, di bawah-bawah jok penuh oleh kardus-kardus dan kantong-kantong plastik, di bagasi bawah berbagai macam sayur, cabe, kopi, barang pecah bela ditumpuk-tumpuk. Di bagian atas; ayam, kambing, sepeda motor, kasur, barang-barang penumpang sungguh beraneka ragam. Bangku duduk penumpang pun sudah ditambah-tambah, dimuat-muatkan semuat-muatnya. Naasnya di luar sana calo-calo masih saja berteriak “kosong… kosong… kosong… ayo naik brangkat…!!!”.
Supir melompat ke tempat duduknya, mesin menyala, tembang melayu diputar yang tidur pun terjaga, dan kepala pun perlahan-lahan mulai bergoyang mengikuti irama. Indah nian alunan musiknya. Dua orang gadis kampung nan semok yang duduk di bangku sebelah supir pun mulai menggoda, “ayolah.. bang yang keras diputar musiknya…!”
Bus perlahan bergerak, mendekati gerbang keluar terminal, kernek melemparkan sejumlah uang kepada petugas. Tak ada karcis, tak ada kwitansi, tak ada tanda terima, indah sekali permufakatan ini.
Seiring bus yang bergerak semakin jauh, aku menulis lagi; “how beautiful Indonesia!”
MRH
0 comments:
Post a Comment